The Siege of Jadotville : Review

Kalo kamu berharap Jamie Dornan bakal buka-bukaan (baca : naked) di film ini. Lupakan. Yeaah, kamu masih bisa sih menikmati Dornan walk’s yang oh-so-breathtaking dan tentu saja his intelectually invigorating acting. 

Film ini mengisahkan tentang blue berets soldiers alias United Nations (UN) peace keepers. Dengan background cold war, antara USA dengan USSR yang sama-sama tertarik dengan kekayaan bumi Congo -uranium- mengakibatkan Irish UN soldier were dropped in the middle of civil war. Komandan Pat Quinlan (Jamie Dornan) harus berjuang demi prajurit-prajuritnya untuk bertahan dengan segala kemungkinan yang sangat tidak mungkin ada solusinya.

Konspirasi politik, membuat UN troops semakin terdesak. Dan realita bahwa film ini adalah kisah nyata yang kebenarannya ditutupi hingga 41 tahun bikin aku makin melek buat nonton. The film tries very hard to be joth a historical record, reasonably faithful to the events, and also a kick ass action film.

This film is tightly written, brilliantly acted by everyone and the action sequences are SUPERB. Everything is tight, suspenseful and believable. You are sucked in by the movie. A little known skirmish, with great characters, great acting. 

Jadi, 3 alasan kenapa film ini wajib tonton :

  1. The lead actor, Jamie Dornan 
  2. Kisah nyata
  3. Strategi perang yang ga pernah aku temukan di film perang lain
  4. Komandannya berhasil menjaga anak buahnya utuh! Ga ada yang mati! Ini gila!
  5. Irish troopers? Jarang ada kan..
  6. Cara berjalan Jamie Dornan HAHAHA

Oke itu lebih dari 3. So? I assure you it was A grade movie. Hard to better… a must see film.

Advertisements

50 Shades Of Grey – Full Review

Oke. Tell me I am late.

Filmnya sudah tayang di tahun 2015. Bukunya jauh lebih lama dari itu, diterbitkan dari 2011. Jadi kayaknya memang sudah sangat telat untuk kasih review. 

Tapi seperti Christian Grey yang memiliki selera sangat ekletik, bisa dibilang hobi baca dan nontonku juga tidak kalah ekletiknya. Aku akan nonton Dirty Dancing dan menulis reviewnya sekarang, jika itu bisa membuatku senang. Atau membaca buku sejarah dan roman bersamaan, seleraku tidak terlalu spesifik, aku hanya menyukai membaca, mencoba menikmati apa yang pengarang ingin sampaikan. Simple as that. Aku bukan tipe yang suka hanya dengan film-film baru dan buku-buku best seller saja. Aku suka sesuatu yang mempu membuat lengan kiri atasku merinding. 

Oke, mungkin perlu kujelaskan sebentar kenapa lengan atasku merinding. Pernahkan kalian mengalami getaran halus (dem.. aku terdengar porno..) maksudku seperti bulu tiba-tiba meremang jika sedang menonton film atau membaca buku? Karena begitulah yang terjadi padaku. Sebut saja ketidakseimbangan reaksi kimiawi tubuh, namun kemunculannya aku sambut dengan gembira, karena aku yakin selama aku “merinding” berarti film atau buku yang aku baca itu bagus, buatku.

Why Fifty Shades of Grey?

Why not.. ?

Never judge a book nor movies by IMDB -Goodreads reviews. Filmnya tidak boleh tayang di Cinemax atau XXI di Indonesia, tidak bisa disalahkan, karena mental masyarakat yang masih belum kuat iman #eh, maksudku film ini contentnya sangat mengeskpos seksualitas, jadi butuh iman yang tebal. 

Well, lagipula apa yang diharapkan dari film yang mengisahkan BDSM lifestyle? Ga mungkin ga ada seksnya. Jadi jika belum mampu untuk berpikiran terbuka, mendingan tidak usah menonton. Karena nanti jatuhnya cuman nyinyir dan nyinyir..

Dan itulah alasanku untuk membaca dan melihat filmnya. Seks? No, aku punya banyak novel yang melibatkan ‘keintiman romance berlebihan’. Jadi seks jelas bukan yang aku yakini sebagai alasannya. Pasti ada alasan lain yang membuat buku trilogynya menjadi best seller, hingga dibuat film. What is that?

Anastasia Rose Steele, 21 tahun, mahasiswi di WSU jurusan Sastra Inggris dengan GPA 4,0 dan akan segera mengakhiri bangku kuliahnya membantu sahabat baiknya Katherine Kavanagh yang kebetulan sedang flu berat untuk mewawancari esekutif muda, billionare, Christian Grey, CEO Grey Enterprise.

Oke, jurnalist bukan bidang Anastasia. Dia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang apa, bagaimana dan yang terburuk adalah siapa yang akan diwawancarainya nanti. Kate lupa memberikan data spesifik mengenai Christian Grey. Jadi dengan ke’lugu’annya, Ana, bersedia menggantikan Kate untuk mewawancarai Mr. Grey. Dan discene inilah aku mulai merinding. Oh la la ..

Anastasia bukanlah wanita muda yang terlalu percaya diri, dia terlalu banyak tersipu, dengan rambut brunette dan mata birunya yang terlalu besar membuatnya seperti wanita polos yang mematikan. Mematikan? Ya. Karena dia memiliki mulut yang sangat pintar. Dia juga sering terkikik, dan itu sangat menarik. Bagi Christian tentu saja. Oke, terkikik hal yang tidak boleh kamu lakukan kalau kamu blonde. Dan anastasia berambut coklat pekat. Pernahkah kalian dengar statement menggelikan ini? 

Dan Anastasia, juga memiliki kelebihan yang mungkin sekarang amat langka. Kepolosan, kejujuran. But yes, dia sangat pintar. Brunette, bermata biru, berkulit flawless, pucat, polos, lugu, suka terkikik, bermulut pintar, kombinasikan semuanya dan BAM!! Itulah yang membuat Christian Grey, yang dikisahkan sebagai pribadi yang dingin, tertarik pada Ana.

Lalu apanya yang special? 

Mungkin kalo kalian hanya menonton filmnya (yang aku yakin hasil donlotan) mungkin feelingnya akan berbeda jika setelah menonton kalian membaca bukunya, atau sebaliknya. Karena dibuku, apa yang dirasakan antara dua tokoh itu sangat mmm.. indah. Bagaimana mencintai seseorang yang tidak pernah mengenal apa itu cinta, apa itu kasih sayang. Bagaimana mencintai seseorang yang tidak akan memperlakukanmu seperti layaknya pasangan normal.

Dan cerita inilah yang membuat spesial. Bagaimana mencintai seseorang tanpa syarat. Benar-benar tanpa syarat, sehingga kamu rela tersakiti namun tetap bertahan dan berharap. 

Dengan masa kelam Christian Grey yang misterius, membuat Ana frustasi, tidak ada satupun yang mengetahui apa yang tersembunyi dibenak Christian, tidak juga orang tua angkat Christian. 

Christian tidak pernah membiarkan dirinya untuk disentuh oleh siapapun, bahkan ibunya. Christian Grey disamping ganteng dan keren dengan lifestyle seksnya yang .. singular. Christian adalah seorang pekerja keras, sangat disiplin, over protektif, control freak, mendominasi, dan punya issue mengenai kelaparan. Jadi kalo kamu diajak makan Christian (mengkhayal sajalah..) usahakan kamu menghabiskan makananmu, karena dia sangat tidak suka orang menyisakan makanannya.

Dan bagaimana hubungannya dengan Ana bisa berhasil? Well, siapa bilang berhasil. Christian merasakan Ana sangat berbeda dengan submissive sebelum-sebelumnya. Banyak pribadi Ana yang membuatnya memiliki harapan untuk masa depan yang sesungguhnya ingin dia miliki namun dia tidak percaya bahwa dirinya berhak untuk sebuah kebahagiaan. Christian mencoba menolak segala bentuk perhatian baru dari Ana. Namun juga tidak mengelak bahwa segala keromantisan yang dia alami bersama Ana adalah hal pertama untuknya. Christian tidak pernah mengajak wanita submissive nya naik helikopter bersama, tidur di kasur yang sama, mengajaknya bertemu keluarga besarnya, naik Glider, terbang ribuan kilo untuk menemui Ana, dan tidak pernah ditinggalkan oleh wanita. 

“Ana.. please. It’s you  that’s changing me” 

Jadi bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah setelah mereka berpisah seperti di akhir film, akan ada cerita yang lebih menarik lag?  Well, akan aku lanjutkan di review Fifty Shades Darker full spoiler ya.