I Will Beat Her..

I will train harder

I will eat cleaner

I know her weakness

I know her strengths

I’ve lost her before

But not this time.

She is going down

I have the advantage

Because I know her well

She is the Old Me.

Advertisements

Biarkan jatuh..

Anak laki-laki kecil itu melihat ke kanan dan ke kiri, kaki kecilnya yang terbungkus sepatu berwarna hijau lime itu tampak ragu saat mulai menapak di anak tangga yang pertama. Sekali lagi dia menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menapakkan kakinya yang lain di anak tangga kedua. Dan itu berulang hingga dia mencapai anak tangga paling atas. Raut mukanya yang semula ragu berubah cerah, senyum lebar nyaris terbahak terlontar saat dia berhasil berdiri di bak atas perosotan itu. 

Kemudian bel berbunyi nyaring, reflek membuat saya memutar pandangan ke arah pintu-pintu berwarna warni yang terkuak dan mengamati beberapa anak berbalut seragam ungu mulai keluar dari pintu-pintu itu. Beberapa anak tidak segera menuju pagar, mereka berlarian melesat seperti busur yang ditembakkan ke arah lokasi permainan outdoor. Empat manusia kecil menuju ke arah perosotan, berebut naik tangga untuk mencapai bak yang berada diatas, mereka ingin segera meluncur. 

Pandangan saya beralih ke anak bersepatu hijau lime yang sekarang sudah duduk rupanya. Wajahnya bias, tubuhnya terpepet anak lain dibibir perosotan, tangannya yang kecil tak mampu meraih pegangan besi disamping jalur perosotan itu, dan dia akhirnya meluncur namun badannya terbalik, dengan bagian sisi samping tubuhnya mendarat keras terlebih dahulu di bak pasir, saya melihat kepalanya terantuk di pegangan jalur perosotan.

Suara melengking keras, namun saya tersadar bahwa itu bukan suara anak itu. Seorang perempuan, yang tampaknya bisa saya panggil kakak, menghambur dari pagar pembatas dan dalam hitungan detik meraup anak itu dalam pelukannya. 

“Kamu tidak apa-apa??! Ya Allah, mana yang sakit??”. “Nda papa sayang, cup cup, nanti mama pukul perosotannya, mana yang sakit? Mana yang sakit?” Tangan wanita itu -yang saya tebak adalah Ibunya- sibuk mengusap kepala, badan dan kaki anak itu. Sedikit menguncang kedepan dan kebelakang, yang saya tahu itu adalah gerakan menenangkan. Dalam pelukan Ibunya, seperti dua orang sahabat yang tak sengaja bertemu dipertokoan, mata saya dan mata anak itu bertemu, mata itu membulat dengan bibir terkatup rapat, menahan tangis dan … sedih?

Saya menggunakan telepati seorang Ibu untuk membaca pikiran anak laki-laki itu. Saya menggigil membaca kalimat yang diteriakkan anak itu melalui matanya yang berkaca-kaca:

“I own this bitch”.

***

Today we live in a culture of fear-fear of pain, fear of loss, fear of strangers, fear of failure-and our children are the biggest victims. Kita ingin melindungi mereka dari apapun, untuk menjaga agar mereka selalu aman, bahagia dan berkecukupan. Tapi apa yang kita inginkan itu, apa yang ingin kita ciptakan itu, sebenarnya adalah budaya parenting dimana kita akan menciptakan generasi anak-anak yang tidak dapat berpikir sendiri dan bertanggungjawab.

Saya lahir digenerasi 80-an, dimana saya cukup mengenyam lama masa-masa main disungai tanpa khawatir hanyut. Saya memiliki beberapa teman yang selalu mengajak saya berpetualang disungai, meskipun saya tidak pernah menceburkan diri, saya masih bisa berpartisipasi dengan bermain air dibagian yang lebih dangkal. Saya juga bermain kasti dan betengan, puluhan kali saya jatuh dan berusaha mengundang simpati orang tua saya, orang tua saya hanya tersenyum dan meletakkan botol obat merah dimeja dengan kapas. Saya pun menjadi team medis handal, yang dengan cekatan membubuhkan obat merah sendiri dan menahan perihnya dengan kernyitan.

Percuma saya berakting supaya dimanjakan, orang tua saya tidak mudah dibodohi, haha. Saya juga ingat berjalan sejauh 2 kilometer karena ban sepeda saya kempes, namun sesampai dirumah saya hanya disuruh mandi dan makan, tidak disuapin dan dibuatkan es sirop merah segar seperti yang saya bayangkan ketika menyeret sepeda saya. 

My parents were good parents, namun dengan standart parenting saat ini, saya rasa dengan cara mereka mendidik saya dulu, sekarang orangtua saya bisa-bisa dipenjara karena child endangerment, berkali-kali. Saya tidak tahu pasti kenapa parents jaman sekarang mudah sekali ketakutan, tidak dalam konteks kriminal seperti child kidnaping, tetapi takut untuk hal-hal basic seperti cerita anak laki-laki bersepatu hijau lime di atas. Tuduhan saya, rasa takut itu muncul ketika kita memberikan penghargaan kepada anak kita saat mereka sukses memakai kaos kaki sendiri. Atau ketika kata “Tidak” bergema disetiap rumah orangtua di bumi ini.

Saya pernah memanjakan anak saya, saya pernah bersikap seperti Ibu dari anak bersepatu hijau lime. Tapi saya belajar, bahwa kadang apa yang dikatakan pakar maupun buku parenting tidak selalu bisa diterapkan untuk anak saya. Saya berlatih tegar saat anak saya pulang dengan lutut bocor, saya juga berusaha tidak terlalu terlihat cemas saat anak saya ngepot-ngepot bersepeda. Yah, dia akan jatuh, tapi dia bisa bangkit dan mengobati lukanya sendiri. Omelan dan kecemasan justru akan melukai kepercayaan dirinya. 

Jangan mencibir saya, saya juga masih berlatih. Realita yang akan saya hadapi adalah saya memang tidak bisa selamanya mengawasi anak saya 24 jam sehari. Saya juga butuh berduaan dengan suami. Eh.

Saya takut, jika anak saya akan tumbuh besar dengan tidak tahu caranya brave karena akan selalu ada orang yang melakukan itu untuknya. Kids learn to be self-sufficient, independent thinkers by figuring out how to react to uncomfortable situations. But how will that happen if they’re always comfortable?

Love your kids, but let them bleed a little. Let them fail. Biarkan mereka belajar bagaimana bertindak saat tidak ada orang yang melihatnya jatuh, atau setidaknya biarkan mereka berpikir tidak ada orang yang melihat. They’ll thank you for it later. 

Bisikan

 Menyakitkan.

Begitu kata-kata yang muncul di benakku, berputar dan membentuk rangkaian sempurna -terlalu sempurna untuk ku abaikan- muncul menghujam bertubi-tubi

Seharusnya aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Bukan bersembunyi dan mengabaikannya.

Mungkin 10 tahun lalu ceritanya akan berbeda.

Mungkin.

 

 

 

 

Anakku, Aturanku

Melihat anak yang semakin tumbuh besar, hati kecil saya kadang berteriak “Kid don’t grow so fast!”
The fact of the matter is, all children grow up, no matter how much we don’t want them to. Well, tentu saja saya ingin sekali dia tumbuh besar dan sehat luar dalam. Namun, yang membuat saya khawatir adalah jaman di mana dia akan tumbuh nanti, yang tentu saja berbeda sangat jauh dengan jaman dimana saya tumbuh -bermain bekel yang tak pernah membosankan sampai kamu menginjak grade six-

C360_2016-01-03-12-02-08-829
Saya paham, bahwa saya tidak akan selamanya bisa mendampinginya, saya harus rela ketika nanti dia akan lebih memilih bersama temannya bermain basket, mungkin, daripada menemani saya membuat adonan kue. Anggap saya paranoid, tapi saya tahu, saya akan merasa sangat khawatir -nanti- daripada dia di umurnya yang sekarang.
Tiap malam ketika dia tidur lelap, saya suka memandangi wajahnya yang polos, matanya yang tak penuh menutup, dengkurnya yang perlahan, dan jari telunjuk yang terselip di antara mulutnya yang mungil. Biasanya saya menangis (mulai mellow deh) mengevaluasi bagaimana perlakuan saya seharian, apakah ada omongan saya yang menyakiti hatinya hari ini? Apakah saya terlalu memaksanya belajar? Apakah saya sempat menolak ajakannya bermain tadi?
Kemudian renungan itu biasanya berakhir dengan harapan bahwa saya harus menjadi pribadi-Ibu-sahabat-gurunya yang lebih baik besok.
Dan harapan itulah yang membuat saya menetapkan beberapa “aturan”, yang selalu saya pegang ketika memberikan “bekal” untuknya, berharap apa yang saya percayai sekarang, bisa bermanfaat untuknya ketika proses kedewasaan mental dan fisiknya mulai berkembang.

1. Berhenti memberikan kenyamanan untuk anak saya.
Terdengar kejam ya?
Ya. Saya memang tidak memberikan kenyamanan untuk anak laki-laki saya. Neneknya menganggap saya “mean mom” alias Ibu tega. Dan suami saya kadang juga risih melihat saya dan anak saya berdikusi (lebih sering debat) untuk menentukan atau memperoleh sesuatu.
Agar dapat hidup dalam kenyamanan, kita membutuhkan pengorbanan. Tidak ada di dunia ini sesuatu yang inginkan tiba-tiba muncul sendiri, untuk meraih sesuatu kita akan berkorban, bekerja, berusaha mendapatkannya.
Saya akan menceritakan beberapa contoh. Misalnya ketika anak saya menghendaki mainan baru, maka saya ajarkan kepadanya bahwa dia harus membelinya sendiri, dengan uangnya sendiri. Darimana dia mendapatkan uang? Mengingat usianya yang muda, bekerja belum menjadi kewajibannya, sehingga saya mencari alternatif yang sesuai dengan perannya.
Setiap nilai 100 yang diperolehnya di sekolah saya memberikan reward untuknya sebesar 10rb rupiah dalam bentuk tabungan. Yang hanya bisa di cairkan sebulan sekali maksimal 50%.
Beberapa menganggap reward saya di atas kurang baik, namun bagi saya, reward itu sangat realistis dan jauh dari kesan konsumtif. Anak saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai 100, otomatis dia akan belajar. Ini sesuai dengan peran dan tanggung jawab dia. Ketika masa untuk mencairkan dana tiba, dia akan belajar membelanjakannya dengan cermat, entah membeli mainan atau buku pilihannya sendiri. Saya menyukai cara ini alih-alih hanya memberikan jatah mainan begitu saja untuknya. Dan saya bisa berhemat. Hihihihi.
Bermain game juga tetap saya beri aturan, jatah dia hanya 1x baterai habis. Sekitar 1-1,5 jam. Saya tidak melarangnya main game, selama saya paham permainan game itu. Jika anak saya menghendaki kenyamanan agar bisa bermain lebih lama. Maka saya akan memberikan pilihan, seperti 30 menit membaca ensiklopedi = reward 30 menit tambahan untuk bermain game.
Atau membersihkan kamar bermainnya = reward 20 menit tambahan waktu main gamenya.
Namun, acap kali dia juga memberikan pilihannya sendiri, dan saya menyambutkan dengan positif-aktif. Kemudian kami akan berdiskusi untuk membuat kesepakatan. Dari kegiatan itu, saya mengharapkan dia belajar untuk bermusyawarah, membiasakan bernegosiasi, tidak malu menyatakan pendapat, yang semuanya merupakan kemampuan atau skill dasar yang harus dimiliki ketika nanti dia dewasa.

2. Menghargai perempuan tanpa merendahkan harga dirinya.
Saya ingin anak saya besar nanti dapat menghargai, mampu melindungi dan menjaga perempuan. Namun dalam prosesnya, saya tidak ingin anak saya kehilangan harga diri mereka sendiri, karena dalam kehidupan sosial di sini selalu terdengar bahwa laki-laki harus mengalah kepada perempuan.
Saya tidak menginginkan itu, saya ingin anak saya tahu batasan mengenai mengalah, sehingga dia tetap memiliki hak untuk ‘melawan’. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan berpendapat, menyuarakan pilihannya.
Jika suatu hari mainannya direbut oleh teman perempuannya, maka reaksi yang tidak saya harapkan adalah keterpaksaan memberikan mainannya. Saya percaya dia akan mampu bernegosiasi dengan teman perempuannya tanpa kehilangan haknya.

3. Saya biarkan dia menangis dan bersedih.
Bahwà menangis adalah ungkapan emosinal yang sah-sah aja dimiliki oleh laki-laki kok. Menangis tidak identik dengan lemah atau cengeng. Selama nangisnya masuk akal, buat saya enggak masalah. Bahkan ketika saya kelepasan marah, saya tetap mendatanginya, menyampaikan alasan kenapa saya marah dan bertanya bagaimana perasaannya, apakah sedih, kecewa kemudian saya biarkan dia menangis di pelukan saya.
Saya mengasuh seorang anak manusia, bukan robot bionic yang tanpa perasaan.

IMG_20160312_204340

4. Mempunyai minimal satu keahlian
Saya memang mensupport anak saya untuk mendapatkan nilai maksimal, namun bukan menuntut. Konsekuensi dari itu adalah saya harus melepaskan kegiatan sampingan les privat untuk anak orang lain, dan full time untuk anak saya. Saya selalu duduk didekatnya ketika dia belajar, Mengajari semua materi pelajaran. Dan saya senang sekali bahwa dia MENIKMATINYA. Saya bebaskan dia memilih jam belajar dan saya bebaskan dia memilih mata pelajaran apa yang ingin dipelajari. Standart saya adalah dia memilih setidaknya 3 pelajaran favorit. Dan nilai di atas rata-rata untuk 3 pelajaran itu. Sisanya? saya biarkan dia belajar natural.
Saya sadar, memintanya untuk mendapatkan nilai 100 di semua mata pelajaran adalah penindasan. Hahahaha. Harapan saya ketika dia memiliki satu keahlian minimal, dia akan mencintai dan menikmati untuk mempelajarinya dengan mendalam. Dan orang-orang hebat pun memulai karirnya dengan mencintai bidangnya bukan? ..

5. Kebebasan bereksplorasi
Anak saya suka menggambar dan merancang bangun dengan mainan lego-nya. Berapa lama dia menghabiskan waktunya untuk melakukan itu? Diseluruh waktu yang dimilikinya. Hahaha. Anak saya tidak mempunyai teman sepermainan di rumah. Jadi saya membebaskan dia bermain apa yang dia sukai asalkan logis dan tidak membahayakan dirinya. Bermain eksperimen, bermain gelas gelas ukur dengan air warna warni layaknya ilmuwan, saya tidak melarangnya.
Saya sedikit membatasi kegiatan yang terlalu menguras tenaganya, karena memang berhubungan dengan kesehatan pernafasannya. Namun ternyata juga tidak masalah, .Disekolah dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain bersama temannya, berlarian, tersandung, jatuh.
Bahkan ketika dia takut-takut menceritakan pengalamannya membeli petasan di sekolah, saya tertawa dan mengajarinya agar aman ketika bermain petasan. Tapi ketika dia menjawab bahwa cukup sekali dia bermain, karena sayang uangnya habis untuk barang yg hanya dibakar, saya percaya bahwa saya tidak salah jalur dalam mengasuhnya.

Parenting is understanding .. rite?.

STAR WARS : The Rey Awakens

Masih belum bisa move-on dari SWTFA. Buat yang mungkin enggak bisa paham kenapa saya sangat ter-influence dengan Star Wars, mungkin engga perlu terusin baca :D.
Atau jika mungkin ada yang belum lihat The Force Awakens, stop reading this. Seriously. Karena tulisan ini isinya spoiler berat.

The Force Awakens menurut saya sangat berbeda dengan Star Wars episode sebelumnya. Jika 6 episode sebelumnya dulu sukses bikin sy ga tidur semalaman, The Force Awakens ini bikin sy berhari-hari bengong dan stress.
TFA was so goooooooood. Mulai dari aktor, karakter yang dimunculkan, cerita, semuanya sempurna, ini adalah satu-satunya film saga terbaik yang pernah saya lihat. I’m hard pushed to think of much in Awakens, that I hadn’t seen before.

And TFA menyisakan banyak misteri, itulah yang menghantui saya berhari-hari dan mencari cluenya. Setelah memutuskan untuk menonton untuk yang kali kedua, mulailah saya menerka misteri – yang saya yakin banyak jutaan penggemar Star Wars di luar sana – juga pasti penasaran dengan episode 7 ini.
Well then, apa yang saya tulis dibawah adalah dugaan, belum terbukti kebenarannya, meskipun dalam hati berharap di episode 8 dan 9 nanti dugaan saya ternyata benar. Hehe #ngarep.

cejkpcUh

#WHO’S REY?
Kalo kamu sudah nonton. Star Wars episode 7 akan mengenalkan beberapa (banyak) karakter baru. Ketika melihat trailernya, saya pesimis bahwa karakter baru itu akan memberikan efek “melegenda” pada SW seperti karakter di enam episode sebelumnya. But I’m totally wrong. This new character from this episode, memberikan “nyawa” baru yang sangat-sangat-sangat-sangat dominan dan honestly, jauh lebih bagus daripada episode sebelumnya.

Rey, seorang young scavenger di planet Jakku. Adalah tokoh utama di TFA. Dipastikan dia akan bermain di trilogy SW selanjutnya. Pertama saya melihat karakter Rey, saya langsung suka. She’s tough. Dengan three rhung-bun yang sederhana, dia otomatis telah meneruskan tradisi buns dari Padme atau Leia, namun lebih dinamis. Kostum Rey juga lebih “merakyat”, sangat berkarakter.

rey2

Di awal film, Rey sekilas telah menceritakan tentang dirinya. Dia membuat goresan pada bangkai pesawat AT-AT yang saya duga adalah “rumah”nya. Banyaknya goresan itu menandakan bahwa dia sedang menghitung hari di tempat dia tinggal sekarang, menyiratkan bahwa dia bukan penduduk asli Planet Jakku, dan bahwa dia sedang menunggu sesuatu, atau seseorang.
Fakta bahwa dia sedang menunggu seseorang diperkuat ketika Rey bertemu BB-8, droid berbentuk bola milik Poe Dameron, seorang kapten pilot dari The Resistance.
Rey juga menegaskan kisahnya kembali saat sedang mengendarai Millenium Falcon, bersama Finn, seorang stromtopper yang “insaf”. Rey berkata kepada Finn bahwa dia harus kembali ke Jakku setelah mengantarkan Finn dan BB-8 ke markas The Resistance. Karena dia sedang menunggu keluarga, yang akan menjemput dirinya.
The same reason juga dikatakan oleh Rey, ketika Han Solo menawarkan pekerjaan sebagai co-pilot Millenium Falcon.

images (1)

But something bother me. Ketika dia mengatakan “I’m no one” ke BB-8, does she really believe that, or is she trying to hide her true origins?
maybe the “no one” is less of a hint to a humble background and more a desire on her part to keep her legacy hidden?

Apa yang menganggu saya terjawab, saat saya benar-benar menfokuskan diri (ceile) ketika menonton untuk kedua kalinya. There’s been a lot of speculation that she’s related to someone.
Tebakan versi saya ketika menonton TFA pertama kali adalah Rey adalah anak Luke Skywalker. Anak saya hanya manggut-manggut “no idea” ketika saya mengatakan itu.
Tapi ini Star Wars, dan JJ Abrams. Saya jadi ingat film-film garapan JJ.A lainnya. Filmnya sangat mudah di prediksi, namun ternyata prediksi kita ini di akhir salah. Hahaha. He’s the one yang punya skill untuk mengecoh penontonnya.
Gak mungkin akan sesederhana itu.
Jadi layaknya detektif #ish saya memulai mengumpulkan piece by piece, menghafalkan plot by plot dan tentu saja, menghafalkan suara dan dialog. Bahkan mencari novelization TFA. Gilak ya.
Tapi ya beginilah saya, kalau sudah terobsesi dengan suatu film, jangan kaget lah.

Lalu saya menemukan dugaan baru. Jauh lebih complicated tapi lebih reasonable. and I ship with this theory.

REY ADALAH KENOBI.
Obi Wan Kenobi/Ben Kenobi grand daughter.
IS she?.

There’s so many reasons why Rey is Kenobi.
1. Her accent.
Did u recognize Rey’s accent? Yes. Rey memiliki aksen British. For Force shake, di SW Saga, hanya dua yang memiliki aksen British. Obi Wan Kenobi dan 3CPO (Threepio).
Kalo kamu berani berspekulasi Rey adalah anak Threepio, silahkan minggat dari blog ini. Ingat, tokoh yang sengaja dipilih untuk berbicara dengan aksen British, pasti ada tujuannya. Ini sudah jadi kamus umum di setiap film Hollywood.

2. Maz Kanata
Masih ingat bukan dengan apa yang dikatakan Maz Kanata di istananya? Dia mengenali Rey dari matanya, mata yang sudah lama di kenalnya.
“I have lived long enough to see the same eyes in different people”
“I see your eyes, I know your eyes.”
Maz Kanata mengenali seseorang yang memiliki mata yang sama dengan Rey. “I have lived long enough..” apakah ini berarti adalah selama star wars movies ada? jika iya, salah satu tokoh yang bermain hampir di setiap episode Star Wars adalah Obi Wan Kenobi.

And when Maz Kanata asks Han Solo “who’s the girls is” , adegan kemudian dipotong. She returns after Rey’s vision and when Rey says “I should b getting home” Maz menjawab “I know, Han told me… the people you’re waiting for there are not coming back.” Thus telling us that Han literally told Maz who the girl is to him, a girl from Jakku. This would have also been the perfect time to drop hints if Han was her father to create a greater effect when he dies in front of her eyes, but there is nothing mentioned.
IF Rey is Kylo siblings, mereka akan tahu. Sama seperti Luke dan Leia yang mengetahui mereka bersaudara because the power of force.

When Maz says “Whoever you’re waiting for (Rey’s family), they’re not coming back. But there is someone who still can” Lalu Rey merespon dengan “Luke?” Which cancels out the idea that Rey is related to Luke.

gNcnXuGh

3. Rey’s Vision
Meskipun visi Rey hanya sebentar, tapi jika jeli, banyak sekali scene dalam visi Rey yang mengungkapkan masa depan dan masa lalu Rey. Dalam visi Rey yang menurutku berhubungan dengan identitas Rey adalah suara Obi Wan.
Yap. We all can hear old Ben Kenobi voice. Apakah itu sebuah petunjuk bagi Rey? apakah itu adalah pesan bahwa Rey memang sudah terpilih untuk menjadi ksatria Jedi? Apakah itu memang benar langkah pertamany? Langkah pertama untuk apa?

4. Lightsaber
Pernakah kalian perhatikan guys? Sebelum mendapatkan visi, Rey berjalan mengikuti suara, yang tak lain adalah suaranya sendiri ketika dia di tinggalkan di Jakku. Dan sebelum dia menyentuh Lightsaber, apakah kalian memperhatikan?
Sesuatu yang sama yang terdapat dalam Star Wars episode New Hope. Saya menyadari bahwa sesuatu yang familiar pernah saya lihat di Star Wars episode sebelumnya. The Box. Yeah, kotak kayu yang sama milik Obi Wan Kenobi.
But
– Why kotak lightsaber milik Obi Wan berada di tangan Maz Kanata? Apakah ini berarti memang benar bahwa Obi Wan adalah teman baik Maz? Diakah yang Maz sebut sebagai mata yang sama dengan mata Rey?
– Kita semua tahu bahwa lightsaber itu adalah milik Obi Wan. Yang di berikan kepada Anakin. Dan setelah Anakin menjadi Darth Vader, disimpan kembali oleh Obi Wan untuk Luke. Di film terakhir, Return of The Jedi, Luke memiliki lightsaber sendiri berwarna hijau. Pertanyaan bingung saya adalah, kenapa Luke memberikannya kepada Maz? kenapa bukan Leia? Why Maz? Why Maz should keep the Jedi important thing. Apakah ini berarti bahwa Luke juga telah memiliki visi atas Rey? apakah Luke tahu bahwa suatu hari Rey akan ke Takodana?

Well, masih banyak lagi yang ingin saya ungkapkan mengenai versi saya tentang Rey. Mungkin yang benar-benar tahu siapakah Rey adalah Unkar Plutt. Yang kita lihat pada visi Rey menggandeng Rey kecil. Dan jangan lupa akan Lor San Tekka, yang muncul pada awal film? Siapa dia, mengapa potongan peta keberadaan Luke Skywalker ada bersamanya? Dan mengapa dia ada di Jakku? tempat yang sama Rey di tinggalkan. Did he knows about Rey? Apakah keberadaannya di Jakku bukan kebetulan? Apakah dia disana untuk mengawasi Rey? Apakah dia seseorang yang mengabdi pada Luke? Tetapi dia terlalu tua untuk menjadi teman Luke, apakah mungkin dia teman dari Obi Wan? Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu episode selanjutnya.

rey6-702x1024

Salut kepada J.J Abrams yang benar-benar membuat saya penasaran. Siapapun Rey, yang dapat di pastikan adalah bahwa dia seorang natural Jedi, yang akan membawa keseimbangan force ke dalam galaxy.
Apa yang saya tulis hanyalah dugaan saja, tapi saya sangat berharap bahwa Rey bukanlah seorang Skywalker.
See ya at the next post about who’s Kylo Ren.

May the force be with us.

Goodbye 2015

And as you all can see, the ball has stopped half way to its perch.

It’s suspended there to remind us before we pop the champagne and celebrate the new year,
to stop,

and reflect on the year that has gone by,
to remember both our triumphs and our missteps,

our promises made and broken,
the times we opened ourselves up to great adventures…
or closed ourselves down for fear of getting hurt,

because that’s what new year’s all about , getting another chance,
a chance to forgive.

to do better,
to do more,
to give more,
to love more,

and to stop worrying about what if…
and start embracing what will be.
So when that ball drops at midnight, and it will drop,
let’s remember to be nice to each other,
kind to each other,
and not just tonight…
but all year long.

Star Wars 7 : The Force Awakens

Why Star Wars (still) maters.

[Warning : strong spoiler below]

I expect that everyone should be as excited as I am to welcome Episode 7 : The Force Awakens. Diluar prequels yang ga lazim, saya sangat merekomendasikan film ini untuk di tonton. Namun ada baiknya, sebelum menonton episode 7, tontonlah dulu 6 episode sebelumnya.

Welcome to 2015. Times has changed since the last prequel Revenge of The Sith appeared a decade ago. And apparently, MANY young people never saw Star Wars. And obviously they could not fathom what was really the big deal that middle-aged men would shamelessly marched into the cinema in costumes and plastic lightsabers. Ya. Kemaren ketika nonton, engga sedikit kalangan paruh baya juga nonton. Bahkan yang saya sangat salut, ada tiga nenek, yang jika dilihat dari cara ketiganya bergandengan tangan, mungkin mereka adalah sahabat penggemar Star Wars. Dan sangat antusias memasuki cinema.

Saya sebenernya kepengen make topeng Darth Vader dan anak saya memakai topeng Stormtopper. Cuman ketinggalan :(.

Does Star Wars still matter? Or, do we finally have to say goodbye to a mythology from a galaxy far far away, a long time ago?

After seeing it myself, I wanted to say that Star Wars still matters. Ini bukan film alien perang, superhero atau film dengan teknologi canggih yang di exposed berlebihan. Star Wars is, has been, and will always be, the story about us.

Han Solo dan Leia Organa mengingatkan saya tentang usaha orang tua yang belajar tentang art of parenting. And they must learn that raising and loving a child would be a far greater challenge than facing off entire Imperial army. And perhaps, demanded a far greater sacrifice – like many parents do. Dan masih banyak karakter mengesankan di film ini. Termasuk munculnya tokoh baru, Rey, Kylo Ren dan Finn. Tentu saja BB-8 droid lucu yang memikat saya.h

Film dimulai dengan prolog berpuluh tahun setelah masa Sith, Empire. Munculah aliansi baru, First Order. Dibawah the masked antagonist yang ternyata adalah cucu dari Anakin Skywalker, anak dari Han Solo dan Leia Organa, Kylo Ren/Ben. Dengan kisah yang tidak jauh berbeda dengan kakeknya, Ben jatuh ke sisi gelap Force.

Enam episode Star Wars terangkum dengan sempurna kendati banyak karakter baru yang muncul. Film dibuka dengan peperangan di planet Zakku. Seorang anggota Ressitance, Poe Dameron, membawa misi penting untuk menyelamatkan informasi mengenai peta keberadaan Luke Skywalker. Ya, di film ini kita tidak akan bertemu dengan Master Jedi Luke. Luke menghilang setelah terjadi pembantaian atas anak-anak calon Jedi oleh Kylo Ren.

Keberadaan Luke menjadi sangat penting bagi kedua belah pihak. Luke diperlukan oleh pihak Ressistance karena hanya dia yang mampu menyeimbangkan force demi keutuhan galaksi. Sedangkan bagi First Order, Luke adalah ancaman dan harus di bunuh.

Oleh Poe, informasi tersebut di simpan dalam droid miliknya, BB-8 yang diperintahkan untuk menjauh saat Poe sendiri ditangkap oleh Kylo Ren dan di bawa ke First Order. BB-8 tidak seperti droid yang ada pada episode Star Wars sebelumnya, tidak seperti R2D2 (Artoo) yang berbentuk tabung. BB-8 berbentuk bola, saya rasa JJ Abrams memang membuatnya berbeda dengan Artoo, karena di Force Awakens, BB-8 nyaris berada di setiap scene, dengan desain seperti bola, otomatis gerakan BB-8 juga lebih cepat daripada Artoo. The cutest is droid ini lebih “manusiawi”, kita bisa merasakan jika dia sedih, kecewa, atau bersemangat.

BB-8 kemudian ditemukan oleh Rey, a survivor soul, abandoned and learned to fend for herself since little. It was when she learned to trust others that she discovered her new family. Hers is also a story of the strength and courage of women, not the slightest less than her male compatriots. Seorang wanita yang nanti akan menjadi inti dari episode Star Wars selanjutnya. Dari sini saya akan berhenti ngasi spoiler ya. Hahaha.

In my cinema, there were audible gasps as well as many tears, and it’s no surprise the internet has pounced on any news with regards the rogue’s return in Episode VIII. Saya nangis ketika Han Solo mati. Eh, spoiler lagi.

All these are the reasons why Star Wars still matters. In the fictitious drama of alien beings on alien worlds, their struggle is very much human. All the events in The Force Awakens may have happened a long time ago in a galaxy far far away, but their echoes are close to our hearts, today.

And this is why the saga will continue.

May the force be with us.