RUN

Oke, pertama melakukan peregangan untuk kaki, strech in strech out, dengan gampang kudorong punggung hingga hidungku menyentuh lutut, tahan 8 detik lalu aku rubah posisi kakiku membentuk sudut 60°. Mengulangi lagi gerakan mencium lutut. Dan melanjutkan peregangan untuk pinggul, lengan, leher dan tumit. Total 15 menit dan aku sudah cukup hangat untuk memulai kilometer pertama. 

Kabut tipis masih menutupi jalanan, matahari juga belum menunjukkan kemilaunya. Yang aku lihat hanyalah akasia yang teduh dan terlihat mengerikan karena bayangannya tampak membesar akibat penerangan lampu jalan. Well, setidaknya cicit burung dan bau hujan semalam yang manis sedikit menentramkan. Kuayunkan kakiku perlahan, kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-breathe, kanan-kiri-kanan-release. Ini mudah, kakiku semakin cepat mengayun dan aku nafasku tetap teratur. Ya Tuhan, aku mencintai olahraga ini.

Yeah… setidaknya aku ingin menulis begitu. Gila saja kalau kau percaya. 

Lari itu … hard….. haaaaarrrrddd.

See, lihat huruf a yang aku tulis. Itu menunjukkan bahwa ini olahraga yang susaaaaaaah. Ya Tuhan, aku menulis a lebih panjang lagi #rollinyes. Lantas kenapa aku memilih olahraga yang susah? 

Baiklah, sebelumnya aku tidak pernah terbayang akan mencoba berlari. Siapa sih yang mau bangun pagi-pagi. Sore bisa sih, asal kamu mau berdamai dengan polusi udara. Lari buatku adalah olahraga terberat yang pernah aku coba. Karena ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, tidak jika usiamu 34 tahun, memiliki pernafasan yang pendek, dan kaki berkarat yang tidak mau digerakkan. 

Bagian terberat adalah fokus. Sungguh, lari butuh fokus, jika tidak, di 100 meter pertama kamu akan menyerah. Kakimu tidak terasa capek, tapi otakmu menyuruh berhenti. Dan ini sangat menyiksaku sampai sekarang.

Bagaimana dengan olahraga lain. Hum, oke coba aku buat daftar.

Tenis : ini olahraga keren, dan I’m pretty good, backhandku kuat kata pelatihnya. Kadang aku menikmati berpura-pura bermain menakjubkan seperti Maria Sharapova, bahkan aku mencontek gayanya -kelar satu set, berbalik melangkah mundur ke garis belakang, berpura-pura membetulkan senar raket (don’t laugh)-. I have passion lah, cuman… masalahnya tidak ada lawan mainnya, aku berlatih bareng dengan anak-anak SD, dan SMP semuanya boys! SMA ada, tapi yakinlah, dengan usiaku di kepala 30-an, bermain dengan anak-anak remaja, itu merusak citraku. Aku takut dikatain… uhmm… Tante Girang, yaah.. meskipun mungkin itu hanya kekhawatiranku sendiri, tapi percayalah.. rasanya buruk. 

Jadi karir ber-tennisku kandas disini, dan goodbye for WTA Tour.. halah.

Aerobik : WHAT THE.. Oke done! Aku menyerah pada latihan pertama. Too noiseee.. sumpah, aku bersyukur pulang latihan tidak kontrol ke dokter THT. Karena kawatir budek. Salut buat yang sanggup.. but this isn’t my things

Yoga : Uhm… quite. Menyenangkan, aku suka, dan boooo.. sebanding dengan biaya yang dikeluarkan tiap sesinya. Buat mengontrol pengeluaran, aku harus mendonlot tutorial yoga simpel yang bisa dilakukan di rumah sendirian, dan mencari olahraga tambahan biar ga boring. And you know what I choose… Yes. Running.

Lari, kukira, pekerjaan yang mudah. Cuma mengenakan sepatu kets dan pergi, bukan? Dibutuhkan sedikit ketrampilan dalam berlari. Semua yang kubutuhkan sudah siap. Bra untuk lari, sudah. Sepatu, sudah (ingatkan aku untuk meminta yang baru #eh). Celana joging warna hitam, sudah. Bukan jenis spandex. Ya ampun, bukan! Ini kain cantik yang longgar dan menyerap keringat. Kaus keren, sudah. Kaus ini bertuliskan “eat me I’m waffle“. Memandangi foto Jamie Dornan, sudah. Maka aku pergi ke pintu.

Setelah satu-dua menit peregangan tidak jelas, aku melangkah turun ke halaman, menuju jalan. Seperti cerita khayalanku diatas, suasana masih lengang, karena itu benar-benar masih pagi. Cuaca yang bagus untuk berlari, pikirku. Akupun mulai berlari, dan menyesal setelah ingat bahwa untuk pemula lebih baik mengawali dengan jalan kaki kira-kira 2 menit terlebih dahulu. Aku terlalu semangat jadinya lupa. Tap, tap, tap. Tidak buruk, mudah ternyata. Syukurlah, tidak perlu banyak koordinasi. Tap, tap, tap, udara tidak begitu dingin, jadi dalam beberapa menit, tubuhku tersengat udara lembab dan sejuk. Aku melewati jalan kecil melewati rumah tetangga yang penghuninya nampaknya masih terlelap. Terus turun menuju jalan besar dan tersadar harus bernapas melalui mulut. Aku bertanya-tanya sudah berapa lama aku berlari, astaga ternyata baru 4 menit.

Rasa sakit luar biasa mulai menusuk dipahaku. Lawan rasa sakit itu! Perintahku pada diri sendiri. Napasku mulai tersengal-sengal. Telapak kakiku memukul-mukul aspal. Aku mendengar paru-paruku protes dan menghisap udara dengan terengah-engah. Aku mengedarkan pandangan ke beberapa orang yang aku lewati, berharap mereka tidak mendengar nafas ngos-ngosanku. Aku ingin terlihat profesional. 

Nafasku semakin terengah-engah. Penapasan agonis. Tiba-tiba aku mengingatnya dari buku perawatan medis yang pernah aku baca. Apa aku sudah lari sejauh satu kilometer. Apa kadar oksigenku turun drastis? Astaga, belum juga sampai setengah blok. 

Aku berhenti mendadak dan mulai berjalan. Oke, aku ingat peraturannya, jangan berhenti tapi berjalanlah lalu mulai lagi. Denyut jantung terasa menyakitkan di kepala. Setelah beberapa menit, aku berhasil menguasai diri dan kembali berlari. Tiba-tiba pusing itu menyerang, dan aku mati-matian untuk berkonsentrasi. Ayo fokus, fokus! Perintahku sekali lagi pada diri sendiri. Bernapas, apa sulitnya sih?.. tarik, embus, tarik, embus, tarik, embus. Ya Tuhan, tampaknya aku mengalami hiperventilasi. 

Dan yang lebih parah, aku harus tersenyum, melambaikan tangan, dan memanjangkan langkah ketika berpapasan dengan orang yang kukenal. Wah, aku terkenal juga ya? Kuhibur diriku sendiri. Baiklah, aku jujur. Aku tidak setenar itu. Mereka penjual sayur mayur yang memang selalu langganan ke rumah. Tapi tetap saja aku harus melambai, aku orang barat dan orang barat harus ramah, aku semakin tidak fokus dan otakku meracau, dan meskipun terasa menyakitkan untuk tersenyum sambil bernapas, aku berhasil juga menyapa. Krisis pun berlalu.

Belum, belum selesai, masih ada satu blok lagi supaya aku bisa menuntaskan kilometer pertamaku. Telapak kakiku semakin sakit, paru-paruku juga sesak, aku harus membayangkan yang lain, jadi kubayangkan aku mengikuti marathon di Bali, memakai baju keluaran Nike dan sepatu New Balance terbaru berwarna abu-abu dan pink. Dan aku berhasil. Aku berhasil mencapai jalan menuju rumah kembali. 

Itu dia halaman kotorku tercinta. Aku menggeser pelan pagar, jatuh terduduk di kursi teras. Lututku terasa lemas, bajuku basah oleh keringat, tenggorokan kering dan sesak, napas panjang yang terasa panas, aku butuh waktu untuk meredakan napas yang tersengal, aku berjalan terhuyung seperti orang mabuk, masuk ke kamar dan mengenyakkan tubuh ke ranjang. Aku tidak peduli akibatnya spreiku akan basah keringat. Aku hanya butuh merebahkan diri. Baru setelah 10 menit kemudian, aku menuang segelas air. Sembari minum aku menuju toilet, kesalahan pertama adalah menatap cermin besar di toilet. Aku tampak merah padam. Bukan merah muda, bukan sekedar merah, tapi benar-benar merah seperti umbi bit. 

Ya Tuhan, ini susah. 

Namun, ketika aku menulis ini, aku sudah lari untuk ke-6 kalinya dalam seminggu. Dan I feel better. Meski aku tahu, butuh lebih dari sebulan untukku untuk stabil, tapi aku tak akan berhenti. Yep. Keep going baby..

Advertisements

50 Shades Of Grey – Full Review

Oke. Tell me I am late.

Filmnya sudah tayang di tahun 2015. Bukunya jauh lebih lama dari itu, diterbitkan dari 2011. Jadi kayaknya memang sudah sangat telat untuk kasih review. 

Tapi seperti Christian Grey yang memiliki selera sangat ekletik, bisa dibilang hobi baca dan nontonku juga tidak kalah ekletiknya. Aku akan nonton Dirty Dancing dan menulis reviewnya sekarang, jika itu bisa membuatku senang. Atau membaca buku sejarah dan roman bersamaan, seleraku tidak terlalu spesifik, aku hanya menyukai membaca, mencoba menikmati apa yang pengarang ingin sampaikan. Simple as that. Aku bukan tipe yang suka hanya dengan film-film baru dan buku-buku best seller saja. Aku suka sesuatu yang mempu membuat lengan kiri atasku merinding. 

Oke, mungkin perlu kujelaskan sebentar kenapa lengan atasku merinding. Pernahkan kalian mengalami getaran halus (dem.. aku terdengar porno..) maksudku seperti bulu tiba-tiba meremang jika sedang menonton film atau membaca buku? Karena begitulah yang terjadi padaku. Sebut saja ketidakseimbangan reaksi kimiawi tubuh, namun kemunculannya aku sambut dengan gembira, karena aku yakin selama aku “merinding” berarti film atau buku yang aku baca itu bagus, buatku.

Why Fifty Shades of Grey?

Why not.. ?

Never judge a book nor movies by IMDB -Goodreads reviews. Filmnya tidak boleh tayang di Cinemax atau XXI di Indonesia, tidak bisa disalahkan, karena mental masyarakat yang masih belum kuat iman #eh, maksudku film ini contentnya sangat mengeskpos seksualitas, jadi butuh iman yang tebal. 

Well, lagipula apa yang diharapkan dari film yang mengisahkan BDSM lifestyle? Ga mungkin ga ada seksnya. Jadi jika belum mampu untuk berpikiran terbuka, mendingan tidak usah menonton. Karena nanti jatuhnya cuman nyinyir dan nyinyir..

Dan itulah alasanku untuk membaca dan melihat filmnya. Seks? No, aku punya banyak novel yang melibatkan ‘keintiman romance berlebihan’. Jadi seks jelas bukan yang aku yakini sebagai alasannya. Pasti ada alasan lain yang membuat buku trilogynya menjadi best seller, hingga dibuat film. What is that?

Anastasia Rose Steele, 21 tahun, mahasiswi di WSU jurusan Sastra Inggris dengan GPA 4,0 dan akan segera mengakhiri bangku kuliahnya membantu sahabat baiknya Katherine Kavanagh yang kebetulan sedang flu berat untuk mewawancari esekutif muda, billionare, Christian Grey, CEO Grey Enterprise.

Oke, jurnalist bukan bidang Anastasia. Dia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang apa, bagaimana dan yang terburuk adalah siapa yang akan diwawancarainya nanti. Kate lupa memberikan data spesifik mengenai Christian Grey. Jadi dengan ke’lugu’annya, Ana, bersedia menggantikan Kate untuk mewawancarai Mr. Grey. Dan discene inilah aku mulai merinding. Oh la la ..

Anastasia bukanlah wanita muda yang terlalu percaya diri, dia terlalu banyak tersipu, dengan rambut brunette dan mata birunya yang terlalu besar membuatnya seperti wanita polos yang mematikan. Mematikan? Ya. Karena dia memiliki mulut yang sangat pintar. Dia juga sering terkikik, dan itu sangat menarik. Bagi Christian tentu saja. Oke, terkikik hal yang tidak boleh kamu lakukan kalau kamu blonde. Dan anastasia berambut coklat pekat. Pernahkah kalian dengar statement menggelikan ini? 

Dan Anastasia, juga memiliki kelebihan yang mungkin sekarang amat langka. Kepolosan, kejujuran. But yes, dia sangat pintar. Brunette, bermata biru, berkulit flawless, pucat, polos, lugu, suka terkikik, bermulut pintar, kombinasikan semuanya dan BAM!! Itulah yang membuat Christian Grey, yang dikisahkan sebagai pribadi yang dingin, tertarik pada Ana.

Lalu apanya yang special? 

Mungkin kalo kalian hanya menonton filmnya (yang aku yakin hasil donlotan) mungkin feelingnya akan berbeda jika setelah menonton kalian membaca bukunya, atau sebaliknya. Karena dibuku, apa yang dirasakan antara dua tokoh itu sangat mmm.. indah. Bagaimana mencintai seseorang yang tidak pernah mengenal apa itu cinta, apa itu kasih sayang. Bagaimana mencintai seseorang yang tidak akan memperlakukanmu seperti layaknya pasangan normal.

Dan cerita inilah yang membuat spesial. Bagaimana mencintai seseorang tanpa syarat. Benar-benar tanpa syarat, sehingga kamu rela tersakiti namun tetap bertahan dan berharap. 

Dengan masa kelam Christian Grey yang misterius, membuat Ana frustasi, tidak ada satupun yang mengetahui apa yang tersembunyi dibenak Christian, tidak juga orang tua angkat Christian. 

Christian tidak pernah membiarkan dirinya untuk disentuh oleh siapapun, bahkan ibunya. Christian Grey disamping ganteng dan keren dengan lifestyle seksnya yang .. singular. Christian adalah seorang pekerja keras, sangat disiplin, over protektif, control freak, mendominasi, dan punya issue mengenai kelaparan. Jadi kalo kamu diajak makan Christian (mengkhayal sajalah..) usahakan kamu menghabiskan makananmu, karena dia sangat tidak suka orang menyisakan makanannya.

Dan bagaimana hubungannya dengan Ana bisa berhasil? Well, siapa bilang berhasil. Christian merasakan Ana sangat berbeda dengan submissive sebelum-sebelumnya. Banyak pribadi Ana yang membuatnya memiliki harapan untuk masa depan yang sesungguhnya ingin dia miliki namun dia tidak percaya bahwa dirinya berhak untuk sebuah kebahagiaan. Christian mencoba menolak segala bentuk perhatian baru dari Ana. Namun juga tidak mengelak bahwa segala keromantisan yang dia alami bersama Ana adalah hal pertama untuknya. Christian tidak pernah mengajak wanita submissive nya naik helikopter bersama, tidur di kasur yang sama, mengajaknya bertemu keluarga besarnya, naik Glider, terbang ribuan kilo untuk menemui Ana, dan tidak pernah ditinggalkan oleh wanita. 

“Ana.. please. It’s you  that’s changing me” 

Jadi bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah setelah mereka berpisah seperti di akhir film, akan ada cerita yang lebih menarik lag?  Well, akan aku lanjutkan di review Fifty Shades Darker full spoiler ya.

Beaootie…

I have been possessed by the devil of Booties!

I didn’t like booties, I used to think they only made your legs even shorter

but last night, the evil devil of the Booties has come upon me and took over my soul

and left me trembling with the need to own a couple (if not more) pairs

OK, exaggerating much?

yeah, probably

Biarkan jatuh..

Anak laki-laki kecil itu melihat ke kanan dan ke kiri, kaki kecilnya yang terbungkus sepatu berwarna hijau lime itu tampak ragu saat mulai menapak di anak tangga yang pertama. Sekali lagi dia menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menapakkan kakinya yang lain di anak tangga kedua. Dan itu berulang hingga dia mencapai anak tangga paling atas. Raut mukanya yang semula ragu berubah cerah, senyum lebar nyaris terbahak terlontar saat dia berhasil berdiri di bak atas perosotan itu. 

Kemudian bel berbunyi nyaring, reflek membuat saya memutar pandangan ke arah pintu-pintu berwarna warni yang terkuak dan mengamati beberapa anak berbalut seragam ungu mulai keluar dari pintu-pintu itu. Beberapa anak tidak segera menuju pagar, mereka berlarian melesat seperti busur yang ditembakkan ke arah lokasi permainan outdoor. Empat manusia kecil menuju ke arah perosotan, berebut naik tangga untuk mencapai bak yang berada diatas, mereka ingin segera meluncur. 

Pandangan saya beralih ke anak bersepatu hijau lime yang sekarang sudah duduk rupanya. Wajahnya bias, tubuhnya terpepet anak lain dibibir perosotan, tangannya yang kecil tak mampu meraih pegangan besi disamping jalur perosotan itu, dan dia akhirnya meluncur namun badannya terbalik, dengan bagian sisi samping tubuhnya mendarat keras terlebih dahulu di bak pasir, saya melihat kepalanya terantuk di pegangan jalur perosotan.

Suara melengking keras, namun saya tersadar bahwa itu bukan suara anak itu. Seorang perempuan, yang tampaknya bisa saya panggil kakak, menghambur dari pagar pembatas dan dalam hitungan detik meraup anak itu dalam pelukannya. 

“Kamu tidak apa-apa??! Ya Allah, mana yang sakit??”. “Nda papa sayang, cup cup, nanti mama pukul perosotannya, mana yang sakit? Mana yang sakit?” Tangan wanita itu -yang saya tebak adalah Ibunya- sibuk mengusap kepala, badan dan kaki anak itu. Sedikit menguncang kedepan dan kebelakang, yang saya tahu itu adalah gerakan menenangkan. Dalam pelukan Ibunya, seperti dua orang sahabat yang tak sengaja bertemu dipertokoan, mata saya dan mata anak itu bertemu, mata itu membulat dengan bibir terkatup rapat, menahan tangis dan … sedih?

Saya menggunakan telepati seorang Ibu untuk membaca pikiran anak laki-laki itu. Saya menggigil membaca kalimat yang diteriakkan anak itu melalui matanya yang berkaca-kaca:

“I own this bitch”.

***

Today we live in a culture of fear-fear of pain, fear of loss, fear of strangers, fear of failure-and our children are the biggest victims. Kita ingin melindungi mereka dari apapun, untuk menjaga agar mereka selalu aman, bahagia dan berkecukupan. Tapi apa yang kita inginkan itu, apa yang ingin kita ciptakan itu, sebenarnya adalah budaya parenting dimana kita akan menciptakan generasi anak-anak yang tidak dapat berpikir sendiri dan bertanggungjawab.

Saya lahir digenerasi 80-an, dimana saya cukup mengenyam lama masa-masa main disungai tanpa khawatir hanyut. Saya memiliki beberapa teman yang selalu mengajak saya berpetualang disungai, meskipun saya tidak pernah menceburkan diri, saya masih bisa berpartisipasi dengan bermain air dibagian yang lebih dangkal. Saya juga bermain kasti dan betengan, puluhan kali saya jatuh dan berusaha mengundang simpati orang tua saya, orang tua saya hanya tersenyum dan meletakkan botol obat merah dimeja dengan kapas. Saya pun menjadi team medis handal, yang dengan cekatan membubuhkan obat merah sendiri dan menahan perihnya dengan kernyitan.

Percuma saya berakting supaya dimanjakan, orang tua saya tidak mudah dibodohi, haha. Saya juga ingat berjalan sejauh 2 kilometer karena ban sepeda saya kempes, namun sesampai dirumah saya hanya disuruh mandi dan makan, tidak disuapin dan dibuatkan es sirop merah segar seperti yang saya bayangkan ketika menyeret sepeda saya. 

My parents were good parents, namun dengan standart parenting saat ini, saya rasa dengan cara mereka mendidik saya dulu, sekarang orangtua saya bisa-bisa dipenjara karena child endangerment, berkali-kali. Saya tidak tahu pasti kenapa parents jaman sekarang mudah sekali ketakutan, tidak dalam konteks kriminal seperti child kidnaping, tetapi takut untuk hal-hal basic seperti cerita anak laki-laki bersepatu hijau lime di atas. Tuduhan saya, rasa takut itu muncul ketika kita memberikan penghargaan kepada anak kita saat mereka sukses memakai kaos kaki sendiri. Atau ketika kata “Tidak” bergema disetiap rumah orangtua di bumi ini.

Saya pernah memanjakan anak saya, saya pernah bersikap seperti Ibu dari anak bersepatu hijau lime. Tapi saya belajar, bahwa kadang apa yang dikatakan pakar maupun buku parenting tidak selalu bisa diterapkan untuk anak saya. Saya berlatih tegar saat anak saya pulang dengan lutut bocor, saya juga berusaha tidak terlalu terlihat cemas saat anak saya ngepot-ngepot bersepeda. Yah, dia akan jatuh, tapi dia bisa bangkit dan mengobati lukanya sendiri. Omelan dan kecemasan justru akan melukai kepercayaan dirinya. 

Jangan mencibir saya, saya juga masih berlatih. Realita yang akan saya hadapi adalah saya memang tidak bisa selamanya mengawasi anak saya 24 jam sehari. Saya juga butuh berduaan dengan suami. Eh.

Saya takut, jika anak saya akan tumbuh besar dengan tidak tahu caranya brave karena akan selalu ada orang yang melakukan itu untuknya. Kids learn to be self-sufficient, independent thinkers by figuring out how to react to uncomfortable situations. But how will that happen if they’re always comfortable?

Love your kids, but let them bleed a little. Let them fail. Biarkan mereka belajar bagaimana bertindak saat tidak ada orang yang melihatnya jatuh, atau setidaknya biarkan mereka berpikir tidak ada orang yang melihat. They’ll thank you for it later. 

Bisikan

 Menyakitkan.

Begitu kata-kata yang muncul di benakku, berputar dan membentuk rangkaian sempurna -terlalu sempurna untuk ku abaikan- muncul menghujam bertubi-tubi

Seharusnya aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Bukan bersembunyi dan mengabaikannya.

Mungkin 10 tahun lalu ceritanya akan berbeda.

Mungkin.

 

 

 

 

Anakku, Aturanku

Melihat anak yang semakin tumbuh besar, hati kecil saya kadang berteriak “Kid don’t grow so fast!”
The fact of the matter is, all children grow up, no matter how much we don’t want them to. Well, tentu saja saya ingin sekali dia tumbuh besar dan sehat luar dalam. Namun, yang membuat saya khawatir adalah jaman di mana dia akan tumbuh nanti, yang tentu saja berbeda sangat jauh dengan jaman dimana saya tumbuh -bermain bekel yang tak pernah membosankan sampai kamu menginjak grade six-

C360_2016-01-03-12-02-08-829
Saya paham, bahwa saya tidak akan selamanya bisa mendampinginya, saya harus rela ketika nanti dia akan lebih memilih bersama temannya bermain basket, mungkin, daripada menemani saya membuat adonan kue. Anggap saya paranoid, tapi saya tahu, saya akan merasa sangat khawatir -nanti- daripada dia di umurnya yang sekarang.
Tiap malam ketika dia tidur lelap, saya suka memandangi wajahnya yang polos, matanya yang tak penuh menutup, dengkurnya yang perlahan, dan jari telunjuk yang terselip di antara mulutnya yang mungil. Biasanya saya menangis (mulai mellow deh) mengevaluasi bagaimana perlakuan saya seharian, apakah ada omongan saya yang menyakiti hatinya hari ini? Apakah saya terlalu memaksanya belajar? Apakah saya sempat menolak ajakannya bermain tadi?
Kemudian renungan itu biasanya berakhir dengan harapan bahwa saya harus menjadi pribadi-Ibu-sahabat-gurunya yang lebih baik besok.
Dan harapan itulah yang membuat saya menetapkan beberapa “aturan”, yang selalu saya pegang ketika memberikan “bekal” untuknya, berharap apa yang saya percayai sekarang, bisa bermanfaat untuknya ketika proses kedewasaan mental dan fisiknya mulai berkembang.

1. Berhenti memberikan kenyamanan untuk anak saya.
Terdengar kejam ya?
Ya. Saya memang tidak memberikan kenyamanan untuk anak laki-laki saya. Neneknya menganggap saya “mean mom” alias Ibu tega. Dan suami saya kadang juga risih melihat saya dan anak saya berdikusi (lebih sering debat) untuk menentukan atau memperoleh sesuatu.
Agar dapat hidup dalam kenyamanan, kita membutuhkan pengorbanan. Tidak ada di dunia ini sesuatu yang inginkan tiba-tiba muncul sendiri, untuk meraih sesuatu kita akan berkorban, bekerja, berusaha mendapatkannya.
Saya akan menceritakan beberapa contoh. Misalnya ketika anak saya menghendaki mainan baru, maka saya ajarkan kepadanya bahwa dia harus membelinya sendiri, dengan uangnya sendiri. Darimana dia mendapatkan uang? Mengingat usianya yang muda, bekerja belum menjadi kewajibannya, sehingga saya mencari alternatif yang sesuai dengan perannya.
Setiap nilai 100 yang diperolehnya di sekolah saya memberikan reward untuknya sebesar 10rb rupiah dalam bentuk tabungan. Yang hanya bisa di cairkan sebulan sekali maksimal 50%.
Beberapa menganggap reward saya di atas kurang baik, namun bagi saya, reward itu sangat realistis dan jauh dari kesan konsumtif. Anak saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai 100, otomatis dia akan belajar. Ini sesuai dengan peran dan tanggung jawab dia. Ketika masa untuk mencairkan dana tiba, dia akan belajar membelanjakannya dengan cermat, entah membeli mainan atau buku pilihannya sendiri. Saya menyukai cara ini alih-alih hanya memberikan jatah mainan begitu saja untuknya. Dan saya bisa berhemat. Hihihihi.
Bermain game juga tetap saya beri aturan, jatah dia hanya 1x baterai habis. Sekitar 1-1,5 jam. Saya tidak melarangnya main game, selama saya paham permainan game itu. Jika anak saya menghendaki kenyamanan agar bisa bermain lebih lama. Maka saya akan memberikan pilihan, seperti 30 menit membaca ensiklopedi = reward 30 menit tambahan untuk bermain game.
Atau membersihkan kamar bermainnya = reward 20 menit tambahan waktu main gamenya.
Namun, acap kali dia juga memberikan pilihannya sendiri, dan saya menyambutkan dengan positif-aktif. Kemudian kami akan berdiskusi untuk membuat kesepakatan. Dari kegiatan itu, saya mengharapkan dia belajar untuk bermusyawarah, membiasakan bernegosiasi, tidak malu menyatakan pendapat, yang semuanya merupakan kemampuan atau skill dasar yang harus dimiliki ketika nanti dia dewasa.

2. Menghargai perempuan tanpa merendahkan harga dirinya.
Saya ingin anak saya besar nanti dapat menghargai, mampu melindungi dan menjaga perempuan. Namun dalam prosesnya, saya tidak ingin anak saya kehilangan harga diri mereka sendiri, karena dalam kehidupan sosial di sini selalu terdengar bahwa laki-laki harus mengalah kepada perempuan.
Saya tidak menginginkan itu, saya ingin anak saya tahu batasan mengenai mengalah, sehingga dia tetap memiliki hak untuk ‘melawan’. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan berpendapat, menyuarakan pilihannya.
Jika suatu hari mainannya direbut oleh teman perempuannya, maka reaksi yang tidak saya harapkan adalah keterpaksaan memberikan mainannya. Saya percaya dia akan mampu bernegosiasi dengan teman perempuannya tanpa kehilangan haknya.

3. Saya biarkan dia menangis dan bersedih.
Bahwà menangis adalah ungkapan emosinal yang sah-sah aja dimiliki oleh laki-laki kok. Menangis tidak identik dengan lemah atau cengeng. Selama nangisnya masuk akal, buat saya enggak masalah. Bahkan ketika saya kelepasan marah, saya tetap mendatanginya, menyampaikan alasan kenapa saya marah dan bertanya bagaimana perasaannya, apakah sedih, kecewa kemudian saya biarkan dia menangis di pelukan saya.
Saya mengasuh seorang anak manusia, bukan robot bionic yang tanpa perasaan.

IMG_20160312_204340

4. Mempunyai minimal satu keahlian
Saya memang mensupport anak saya untuk mendapatkan nilai maksimal, namun bukan menuntut. Konsekuensi dari itu adalah saya harus melepaskan kegiatan sampingan les privat untuk anak orang lain, dan full time untuk anak saya. Saya selalu duduk didekatnya ketika dia belajar, Mengajari semua materi pelajaran. Dan saya senang sekali bahwa dia MENIKMATINYA. Saya bebaskan dia memilih jam belajar dan saya bebaskan dia memilih mata pelajaran apa yang ingin dipelajari. Standart saya adalah dia memilih setidaknya 3 pelajaran favorit. Dan nilai di atas rata-rata untuk 3 pelajaran itu. Sisanya? saya biarkan dia belajar natural.
Saya sadar, memintanya untuk mendapatkan nilai 100 di semua mata pelajaran adalah penindasan. Hahahaha. Harapan saya ketika dia memiliki satu keahlian minimal, dia akan mencintai dan menikmati untuk mempelajarinya dengan mendalam. Dan orang-orang hebat pun memulai karirnya dengan mencintai bidangnya bukan? ..

5. Kebebasan bereksplorasi
Anak saya suka menggambar dan merancang bangun dengan mainan lego-nya. Berapa lama dia menghabiskan waktunya untuk melakukan itu? Diseluruh waktu yang dimilikinya. Hahaha. Anak saya tidak mempunyai teman sepermainan di rumah. Jadi saya membebaskan dia bermain apa yang dia sukai asalkan logis dan tidak membahayakan dirinya. Bermain eksperimen, bermain gelas gelas ukur dengan air warna warni layaknya ilmuwan, saya tidak melarangnya.
Saya sedikit membatasi kegiatan yang terlalu menguras tenaganya, karena memang berhubungan dengan kesehatan pernafasannya. Namun ternyata juga tidak masalah, .Disekolah dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain bersama temannya, berlarian, tersandung, jatuh.
Bahkan ketika dia takut-takut menceritakan pengalamannya membeli petasan di sekolah, saya tertawa dan mengajarinya agar aman ketika bermain petasan. Tapi ketika dia menjawab bahwa cukup sekali dia bermain, karena sayang uangnya habis untuk barang yg hanya dibakar, saya percaya bahwa saya tidak salah jalur dalam mengasuhnya.

Parenting is understanding .. rite?.