Biarkan jatuh..

Anak laki-laki kecil itu melihat ke kanan dan ke kiri, kaki kecilnya yang terbungkus sepatu berwarna hijau lime itu tampak ragu saat mulai menapak di anak tangga yang pertama. Sekali lagi dia menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menapakkan kakinya yang lain di anak tangga kedua. Dan itu berulang hingga dia mencapai anak tangga paling atas. Raut mukanya yang semula ragu berubah cerah, senyum lebar nyaris terbahak terlontar saat dia berhasil berdiri di bak atas perosotan itu. 

Kemudian bel berbunyi nyaring, reflek membuat saya memutar pandangan ke arah pintu-pintu berwarna warni yang terkuak dan mengamati beberapa anak berbalut seragam ungu mulai keluar dari pintu-pintu itu. Beberapa anak tidak segera menuju pagar, mereka berlarian melesat seperti busur yang ditembakkan ke arah lokasi permainan outdoor. Empat manusia kecil menuju ke arah perosotan, berebut naik tangga untuk mencapai bak yang berada diatas, mereka ingin segera meluncur. 

Pandangan saya beralih ke anak bersepatu hijau lime yang sekarang sudah duduk rupanya. Wajahnya bias, tubuhnya terpepet anak lain dibibir perosotan, tangannya yang kecil tak mampu meraih pegangan besi disamping jalur perosotan itu, dan dia akhirnya meluncur namun badannya terbalik, dengan bagian sisi samping tubuhnya mendarat keras terlebih dahulu di bak pasir, saya melihat kepalanya terantuk di pegangan jalur perosotan.

Suara melengking keras, namun saya tersadar bahwa itu bukan suara anak itu. Seorang perempuan, yang tampaknya bisa saya panggil kakak, menghambur dari pagar pembatas dan dalam hitungan detik meraup anak itu dalam pelukannya. 

“Kamu tidak apa-apa??! Ya Allah, mana yang sakit??”. “Nda papa sayang, cup cup, nanti mama pukul perosotannya, mana yang sakit? Mana yang sakit?” Tangan wanita itu -yang saya tebak adalah Ibunya- sibuk mengusap kepala, badan dan kaki anak itu. Sedikit menguncang kedepan dan kebelakang, yang saya tahu itu adalah gerakan menenangkan. Dalam pelukan Ibunya, seperti dua orang sahabat yang tak sengaja bertemu dipertokoan, mata saya dan mata anak itu bertemu, mata itu membulat dengan bibir terkatup rapat, menahan tangis dan … sedih?

Saya menggunakan telepati seorang Ibu untuk membaca pikiran anak laki-laki itu. Saya menggigil membaca kalimat yang diteriakkan anak itu melalui matanya yang berkaca-kaca:

“I own this bitch”.

***

Today we live in a culture of fear-fear of pain, fear of loss, fear of strangers, fear of failure-and our children are the biggest victims. Kita ingin melindungi mereka dari apapun, untuk menjaga agar mereka selalu aman, bahagia dan berkecukupan. Tapi apa yang kita inginkan itu, apa yang ingin kita ciptakan itu, sebenarnya adalah budaya parenting dimana kita akan menciptakan generasi anak-anak yang tidak dapat berpikir sendiri dan bertanggungjawab.

Saya lahir digenerasi 80-an, dimana saya cukup mengenyam lama masa-masa main disungai tanpa khawatir hanyut. Saya memiliki beberapa teman yang selalu mengajak saya berpetualang disungai, meskipun saya tidak pernah menceburkan diri, saya masih bisa berpartisipasi dengan bermain air dibagian yang lebih dangkal. Saya juga bermain kasti dan betengan, puluhan kali saya jatuh dan berusaha mengundang simpati orang tua saya, orang tua saya hanya tersenyum dan meletakkan botol obat merah dimeja dengan kapas. Saya pun menjadi team medis handal, yang dengan cekatan membubuhkan obat merah sendiri dan menahan perihnya dengan kernyitan.

Percuma saya berakting supaya dimanjakan, orang tua saya tidak mudah dibodohi, haha. Saya juga ingat berjalan sejauh 2 kilometer karena ban sepeda saya kempes, namun sesampai dirumah saya hanya disuruh mandi dan makan, tidak disuapin dan dibuatkan es sirop merah segar seperti yang saya bayangkan ketika menyeret sepeda saya. 

My parents were good parents, namun dengan standart parenting saat ini, saya rasa dengan cara mereka mendidik saya dulu, sekarang orangtua saya bisa-bisa dipenjara karena child endangerment, berkali-kali. Saya tidak tahu pasti kenapa parents jaman sekarang mudah sekali ketakutan, tidak dalam konteks kriminal seperti child kidnaping, tetapi takut untuk hal-hal basic seperti cerita anak laki-laki bersepatu hijau lime di atas. Tuduhan saya, rasa takut itu muncul ketika kita memberikan penghargaan kepada anak kita saat mereka sukses memakai kaos kaki sendiri. Atau ketika kata “Tidak” bergema disetiap rumah orangtua di bumi ini.

Saya pernah memanjakan anak saya, saya pernah bersikap seperti Ibu dari anak bersepatu hijau lime. Tapi saya belajar, bahwa kadang apa yang dikatakan pakar maupun buku parenting tidak selalu bisa diterapkan untuk anak saya. Saya berlatih tegar saat anak saya pulang dengan lutut bocor, saya juga berusaha tidak terlalu terlihat cemas saat anak saya ngepot-ngepot bersepeda. Yah, dia akan jatuh, tapi dia bisa bangkit dan mengobati lukanya sendiri. Omelan dan kecemasan justru akan melukai kepercayaan dirinya. 

Jangan mencibir saya, saya juga masih berlatih. Realita yang akan saya hadapi adalah saya memang tidak bisa selamanya mengawasi anak saya 24 jam sehari. Saya juga butuh berduaan dengan suami. Eh.

Saya takut, jika anak saya akan tumbuh besar dengan tidak tahu caranya brave karena akan selalu ada orang yang melakukan itu untuknya. Kids learn to be self-sufficient, independent thinkers by figuring out how to react to uncomfortable situations. But how will that happen if they’re always comfortable?

Love your kids, but let them bleed a little. Let them fail. Biarkan mereka belajar bagaimana bertindak saat tidak ada orang yang melihatnya jatuh, atau setidaknya biarkan mereka berpikir tidak ada orang yang melihat. They’ll thank you for it later. 

Anakku, Aturanku

Melihat anak yang semakin tumbuh besar, hati kecil saya kadang berteriak “Kid don’t grow so fast!”
The fact of the matter is, all children grow up, no matter how much we don’t want them to. Well, tentu saja saya ingin sekali dia tumbuh besar dan sehat luar dalam. Namun, yang membuat saya khawatir adalah jaman di mana dia akan tumbuh nanti, yang tentu saja berbeda sangat jauh dengan jaman dimana saya tumbuh -bermain bekel yang tak pernah membosankan sampai kamu menginjak grade six-

C360_2016-01-03-12-02-08-829
Saya paham, bahwa saya tidak akan selamanya bisa mendampinginya, saya harus rela ketika nanti dia akan lebih memilih bersama temannya bermain basket, mungkin, daripada menemani saya membuat adonan kue. Anggap saya paranoid, tapi saya tahu, saya akan merasa sangat khawatir -nanti- daripada dia di umurnya yang sekarang.
Tiap malam ketika dia tidur lelap, saya suka memandangi wajahnya yang polos, matanya yang tak penuh menutup, dengkurnya yang perlahan, dan jari telunjuk yang terselip di antara mulutnya yang mungil. Biasanya saya menangis (mulai mellow deh) mengevaluasi bagaimana perlakuan saya seharian, apakah ada omongan saya yang menyakiti hatinya hari ini? Apakah saya terlalu memaksanya belajar? Apakah saya sempat menolak ajakannya bermain tadi?
Kemudian renungan itu biasanya berakhir dengan harapan bahwa saya harus menjadi pribadi-Ibu-sahabat-gurunya yang lebih baik besok.
Dan harapan itulah yang membuat saya menetapkan beberapa “aturan”, yang selalu saya pegang ketika memberikan “bekal” untuknya, berharap apa yang saya percayai sekarang, bisa bermanfaat untuknya ketika proses kedewasaan mental dan fisiknya mulai berkembang.

1. Berhenti memberikan kenyamanan untuk anak saya.
Terdengar kejam ya?
Ya. Saya memang tidak memberikan kenyamanan untuk anak laki-laki saya. Neneknya menganggap saya “mean mom” alias Ibu tega. Dan suami saya kadang juga risih melihat saya dan anak saya berdikusi (lebih sering debat) untuk menentukan atau memperoleh sesuatu.
Agar dapat hidup dalam kenyamanan, kita membutuhkan pengorbanan. Tidak ada di dunia ini sesuatu yang inginkan tiba-tiba muncul sendiri, untuk meraih sesuatu kita akan berkorban, bekerja, berusaha mendapatkannya.
Saya akan menceritakan beberapa contoh. Misalnya ketika anak saya menghendaki mainan baru, maka saya ajarkan kepadanya bahwa dia harus membelinya sendiri, dengan uangnya sendiri. Darimana dia mendapatkan uang? Mengingat usianya yang muda, bekerja belum menjadi kewajibannya, sehingga saya mencari alternatif yang sesuai dengan perannya.
Setiap nilai 100 yang diperolehnya di sekolah saya memberikan reward untuknya sebesar 10rb rupiah dalam bentuk tabungan. Yang hanya bisa di cairkan sebulan sekali maksimal 50%.
Beberapa menganggap reward saya di atas kurang baik, namun bagi saya, reward itu sangat realistis dan jauh dari kesan konsumtif. Anak saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai 100, otomatis dia akan belajar. Ini sesuai dengan peran dan tanggung jawab dia. Ketika masa untuk mencairkan dana tiba, dia akan belajar membelanjakannya dengan cermat, entah membeli mainan atau buku pilihannya sendiri. Saya menyukai cara ini alih-alih hanya memberikan jatah mainan begitu saja untuknya. Dan saya bisa berhemat. Hihihihi.
Bermain game juga tetap saya beri aturan, jatah dia hanya 1x baterai habis. Sekitar 1-1,5 jam. Saya tidak melarangnya main game, selama saya paham permainan game itu. Jika anak saya menghendaki kenyamanan agar bisa bermain lebih lama. Maka saya akan memberikan pilihan, seperti 30 menit membaca ensiklopedi = reward 30 menit tambahan untuk bermain game.
Atau membersihkan kamar bermainnya = reward 20 menit tambahan waktu main gamenya.
Namun, acap kali dia juga memberikan pilihannya sendiri, dan saya menyambutkan dengan positif-aktif. Kemudian kami akan berdiskusi untuk membuat kesepakatan. Dari kegiatan itu, saya mengharapkan dia belajar untuk bermusyawarah, membiasakan bernegosiasi, tidak malu menyatakan pendapat, yang semuanya merupakan kemampuan atau skill dasar yang harus dimiliki ketika nanti dia dewasa.

2. Menghargai perempuan tanpa merendahkan harga dirinya.
Saya ingin anak saya besar nanti dapat menghargai, mampu melindungi dan menjaga perempuan. Namun dalam prosesnya, saya tidak ingin anak saya kehilangan harga diri mereka sendiri, karena dalam kehidupan sosial di sini selalu terdengar bahwa laki-laki harus mengalah kepada perempuan.
Saya tidak menginginkan itu, saya ingin anak saya tahu batasan mengenai mengalah, sehingga dia tetap memiliki hak untuk ‘melawan’. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan berpendapat, menyuarakan pilihannya.
Jika suatu hari mainannya direbut oleh teman perempuannya, maka reaksi yang tidak saya harapkan adalah keterpaksaan memberikan mainannya. Saya percaya dia akan mampu bernegosiasi dengan teman perempuannya tanpa kehilangan haknya.

3. Saya biarkan dia menangis dan bersedih.
Bahwà menangis adalah ungkapan emosinal yang sah-sah aja dimiliki oleh laki-laki kok. Menangis tidak identik dengan lemah atau cengeng. Selama nangisnya masuk akal, buat saya enggak masalah. Bahkan ketika saya kelepasan marah, saya tetap mendatanginya, menyampaikan alasan kenapa saya marah dan bertanya bagaimana perasaannya, apakah sedih, kecewa kemudian saya biarkan dia menangis di pelukan saya.
Saya mengasuh seorang anak manusia, bukan robot bionic yang tanpa perasaan.

IMG_20160312_204340

4. Mempunyai minimal satu keahlian
Saya memang mensupport anak saya untuk mendapatkan nilai maksimal, namun bukan menuntut. Konsekuensi dari itu adalah saya harus melepaskan kegiatan sampingan les privat untuk anak orang lain, dan full time untuk anak saya. Saya selalu duduk didekatnya ketika dia belajar, Mengajari semua materi pelajaran. Dan saya senang sekali bahwa dia MENIKMATINYA. Saya bebaskan dia memilih jam belajar dan saya bebaskan dia memilih mata pelajaran apa yang ingin dipelajari. Standart saya adalah dia memilih setidaknya 3 pelajaran favorit. Dan nilai di atas rata-rata untuk 3 pelajaran itu. Sisanya? saya biarkan dia belajar natural.
Saya sadar, memintanya untuk mendapatkan nilai 100 di semua mata pelajaran adalah penindasan. Hahahaha. Harapan saya ketika dia memiliki satu keahlian minimal, dia akan mencintai dan menikmati untuk mempelajarinya dengan mendalam. Dan orang-orang hebat pun memulai karirnya dengan mencintai bidangnya bukan? ..

5. Kebebasan bereksplorasi
Anak saya suka menggambar dan merancang bangun dengan mainan lego-nya. Berapa lama dia menghabiskan waktunya untuk melakukan itu? Diseluruh waktu yang dimilikinya. Hahaha. Anak saya tidak mempunyai teman sepermainan di rumah. Jadi saya membebaskan dia bermain apa yang dia sukai asalkan logis dan tidak membahayakan dirinya. Bermain eksperimen, bermain gelas gelas ukur dengan air warna warni layaknya ilmuwan, saya tidak melarangnya.
Saya sedikit membatasi kegiatan yang terlalu menguras tenaganya, karena memang berhubungan dengan kesehatan pernafasannya. Namun ternyata juga tidak masalah, .Disekolah dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain bersama temannya, berlarian, tersandung, jatuh.
Bahkan ketika dia takut-takut menceritakan pengalamannya membeli petasan di sekolah, saya tertawa dan mengajarinya agar aman ketika bermain petasan. Tapi ketika dia menjawab bahwa cukup sekali dia bermain, karena sayang uangnya habis untuk barang yg hanya dibakar, saya percaya bahwa saya tidak salah jalur dalam mengasuhnya.

Parenting is understanding .. rite?.