Movie Reviews : Paterson

Pernahkah kamu bosan dengan hidupmu?

Kita bangun dan terlelap di ujung hari, dengan kegiatan yang hampir sepenuhnya sama. Makan dengan piring yang sama, pekerjaan yang sama, bertemu dengan orang-orang yang sama, basa-basi yang sama.

Atau menggunakan celana jins yang sama sepanjang minggu.

Dan mengatakan bahwa hidup adalah ironi menurutku cukup tepat.

Membutuhkan kesedihan untuk memahami kebahagiaan, kericuhan untuk memahami damainya ketenangan, dan ketiadaan untuk menghargai keberadaan.

Seharusnya hidup yang penuh ironi ini tidak menumbuhkan kebosanan.

Tetapi bagaimana jika kenyataannya tidak demikian?

Seorang pria bernama Paterson (Adam Driver), yang menjalani hari-harinya dengan rutinitas monoton dan nyaris membosankan, seperti selalu bangun di jam yang sama, sarapan dengan menu yang sama, berjalan menuju tempat kerja dengan rute yang sama. Dan karena Paterson adalah supir bus, dia diharuskan melewati rute yang sama.

Rutinitasnya berlanjut dengan makan siang di tempat yang sama, pulang dengan rute yang sama dengan saat dia berangkat, mengecek kotak surat, membetulkan tiang penyangga kotak suratnya yang entah kenapa meskipun hari ini sudah di betulkan, pasti miring lagi keesokan harinya.

Selain fakta bahwa dia hidup bersama istri yang memiliki obsesi dengan dunia monochrome, eksentrik, dan cukup lugas dalam menyampaikan segala mimpinya. Paterson adalah seorang penulis puisi yang handal.

Bukan, dia tidak pernah mengklaim dirinya seorang penulis puisi, Paterson tidak memiliki keangkuhan atas bakatnya. Dia selalu menulis puisinya di sebuah buku yang hampir setiap waktu berada dengannya. Menyimpan segala isi hatinya dalam buku itu dan kadangkala, istrinya yang memintanya untuk membaca salah satu puisi yang telah ditulisnya.

Lalu apa yang menarik dalam film yang skenario dan disutradarai oleh Jim Jarmusch ini?

Dalam kesederhanaan plot, Jim mengikat sebuah kisah yang dapat menjadi pelajaran hidup, keajaiban barangkali, semangat pastinya, dan tentu saja kasih sayang serta rasa menghargai yang sangat besar.

Ketika kalian menonton film ini, cobalah untuk berpikiran terbuka, selain kamu akan menemukan apa makna film ini, kamu akan menemukan bahwa kebosanan adalah salah satu bentuk ketidakmampuan manusia dalam menghargai sesuatu.

Akting Adam sempurna, bagaimana dia membawakan sosok Paterson tak bercela. Outstanding performance untuknya.

Tetapi jika kamu tidak menemukan inti dari film ini, mungkin dengan membaca fakta-fakta yang aku tulis mengenai Paterson akan dapat sedikit membantu.

Fakta-fakta Paterson :

0. Paterson in Paterson (hm.. very poetic)

1. Selain merupakan nama pemeran utama. Paterson juga merupakan nama kota yang menjadi latar film ini.

2. Paterson selalu bangun di jam 6.10, 6.15, atau 6.30 di weekend.

3. Paterson memiliki anjing buldog bernama Marvin.

4. Paterson hidup bersama istrinya, Laura. Seorang wanita yang mempunyai bakat seni luar biasa, terobsesi dengan monochrome (gambar hitam putih), pembuat cupcake pemula, dan memiliki mimpi yang berubah-ubah.

5. Paterson selalu mencium istrinya sebelum bangkit dari tempat tidur di pagi hari.

6. Paterson selalu makan sereal untuk sarapan. Tidak pernah terganggu dengan istri yang jarang menemaninya sarapan, atau tidak pernah membuatkannya sarapan. Dia menerimanya dengan penuh syukur, seolah-olah mengatakan bahwa tidak perlu meributkan tugas suami harus gini, tugas istri harus gitu. Aku bisa buat makanan sendiri kok, lagipula aku memang harus berangkat bekerja pagi, saat semuanya masih terlelap.

7. Paterson bekerja sebagai supir bus kota di Paterson.

8. Setiap pagi, dia selalu bertemu Donny, rekan kerja yang selalu mengeluhkan kondisi hidupnya. Ini mengingatkanku pada kehidupan nyata, ada kalanya kita menemui teman yang suka mengeluh.

9. Paterson selalu mendoakan hari-hari Donny selalu baik. Setiap hari.

10. Paterson selalu membawa kotak makan siang kaleng yang tua. Bekalnya kadang sandwich, atau cupcake buatan istrinya.

11. Paterson selalu makan siang di seberang air terjun. Sendirian.

12. Sebelum masuk rumah, Paterson selalu mengecek kotak surat, membetulkan tiangnya yang miring. Dan tidak pernah komplain mengapa istrinya tidak pernah mengambil surat-surat dari kota surat meskipun istrinya selalu berada di rumah.

13. Paterson selalu mengatakan bahwa masakan istrinya enak, meskipun masakannya tidak enak, tapi dia selalu bersyukur dan mengucap terimakasih.

14. Ah ya, dia selalu mengucapkan terimakasih untuk hal apapun.

15. Dia selalu memuji karya istrinya meskipun aneh.

16. Rumah Paterson berdekorasi full dengan nuansa monochrome atau hitam putih, kecuali kamar tidur dan ruang pribadi Paterson di basement. Menandakan bahwa meskipun istrinya ratu di rumah, ada hal-hal yang merupakan privacy Paterson dan mereka saling menghargainya.

18. Paterson tidak memiliki ponsel. Meskipun istrinya memiliki ipad, iphone dan macbook.

19. Kebiasaan Paterson setelah pulang dari bekerja adalah makan malam, kemudian mengajak Marvin jalan-jalan ke Bar.

20. Di bar, Paterson hanya meminum 1 gelas bir, tidak pernah yang lain. Teman minumnya adalah pemilik bar, Doc. Yang hobi mengkoleksi kliping orang-orang terkenal yang ditempel di dinding bar.

21. Paterson mantan militer US. Di film ini, foto Adam Driver berseragam militer digunakan sebagai properti.

22. Twins, water falls adalah kata ajaib. Perhatikan saja saat kamu melihat film ini.

23. Sikap positif menyelamatkannya dari masalah

24. Paterson menulis puisi di sebuah buku

25. Karena dia terlalu baik untuk berkata jahat terhadap seseorang, Paterson selalu menuangkan emosinya lewat puisi yang ditulisnya.

26. Ketika “dunia”nya jatuh, tidak ada yang sanggup untuk menyembuhkan lukanya, kecuali seseorang, yaitu dirinya sendiri.

It’s about love and poetry and dreams and the chance ecounter that can close wounds.

Selamat menonton.

Advertisements

Star Wars : The Last Jedi

Kalau kamu Star Wars fans, segera hengkang dari blog ini, karena tulisanku penuh spoiler. Tapi kalau buatmu spoiler itu tidak masalah, akan menyenangkan kalau kita bisa ngobrol soal sequel Star Wars saga ini. Lalu bagaimana jika kamu bukan keduanya? well …tidak ada kata terlambat untuk join the force sekarang kok.

Sebagai permulaan, aku mau angkat topi, untuk penulis sekaligus director ; Rian Johnson. Karena ini adalah film Star Wars terbaik menurutku, dari kedelapan film Star Wars yang lain. He delivers a fine mix of character, storytelling, and the list are endless. Johnson membuktikan bahwa dialah satu-satunya yang membawa balance, atau keseimbangan yang selalu menjadi tema inti dari film Star Wars. Keeping the warring forces of this intergalactic franchise in perfect harmony. Salute for you Rian, tidak sabar menunggu apa yang akan kamu siapkan untuk Star Wars ke-9, 2 tahun mendatang.

So, apa yang terjadi di The Last Jedi? Yang bisa aku rangkumkan adalah, kamu akan melihat bahwa Rian Johnson benar-benar “menggali” karakter dari semua tokoh yang ada di film ini, deep, very deep. Jadi, aku mulai saja … Seperti 7 film Star Wars sebelumnya, layar dibuka dengan Star Wars main title theme dengan review singkat yang ditulis dengan huruf berwarna kuning. I’m glad they keep that, sesuatu yang sudah menjadi trademark sejak saya melihat Star Wars pertama kali, belasan tahun lalu.

Dan film dilanjutkan dengan kemunculan First Order, dengan pesawat terbarunya, The Dreadnought. Tampaknya First Order berusaha keras setelah kehancuran Star Killer Base di Star Wars ke -7, The Force Awaken. Misi mereka menghancurkan The Resistance dengan memasang pelacak pada The Raddus, base operasinya Leia. Scene dilanjutkan dengan konflik antara General Hux dengan Poe Dameron, pilot numero uno The Resistance. Disini aku ketawa ngakak banget, ini yang aku katakan sebelumnya kalau kita bakal disuguhi karakter setiap tokoh dengan sangat mendalam. Poe dengan humor sarkasmenya, mempermainkan General Hux, imagine that.

Poe dengan co-pilotnya BB-8, bertugas untuk menghancurkan semua meriam yang ada di Dreadnought, tujuannya agar Resistance Bombers, kapal yang memuat bom plasma untuk menghancurkan Dreadnought, dapat menyelesaikan misinya, tanpa di bom duluan sama meriam yang ada di Dreadnought. Misi sukses, sayangnya Leia tidak terlihat lega, mengingat semua kru dari The Resistence yang melaksanakan misinya di Resistance Bombers tidak ada yang selamat.

Di scene ini tiba-tiba aku nangis. Pertama karena emosi yang digambarkan Leia sangat terasa, lalu mengingat dia, Carrie Fisher (pemain Princess Leia dalam Star Wars saga) sudah meninggal, tepat saat berakhirnya pembuatan TLJ.

Ini twist plot yang tidak pernah terjadi di Star Wars yang lain, disuguhi peperangan dan emosi kehilangan di awal film? benar-benar skenario yang cerdas. Dengan demikian, penonton akan memperhatikan detail dari keseluruhan peran yang mendukung film ini, contohnya Paige, salah satu pilot Resistance Bombers yang berkorban untuk keberhasilan The Resistence menghancurkan Dreadnought, sebelum scene pemeran utama, saat Rey menyerahkan lightsaber ke Luke Skywalker.

And frankly, Luke membuang lightsaber yang diterimanya dari Rey dan tidak mempedulikannya. Tetapi Rey tetap kukuh dengan tugasnya untuk membawa Luke kembali berjuang bersama The Resistence. Dan satu-satunya yang membuat Luke setuju untuk mwlatih Rey adalah R2D2, droid lama yang sayangnya hanya muncul sebentar di film ini. Luke melihat rekaman yang diputar ulang oleh R2D2 saat saudaranya Leia meminta bantuan Obi Wan Kenobi untuk membantu. Dan lagi-lagi, trenyuh saat melihat koneksi antara Luke dengan droid kesayangannya.

Damn, ini film action, kalau sudah nangis sampai dua kali kayaknya aku harus masukkan genre drama ke hashtag.

Akhirnya Luke tidak lagi acuh terhadap Rey. Percakapan pertama mereka membuat ngakak, saat Luke menanyakan siapa Rey. Lalu, lagi saat latihan pertama Rey menjadi seorang Jedi. Dan scene ini sangat penting, memperlihatkan bahwa disetiap jiwa manusia memiliki sisi gelap dan sisi terang. Dan Luke sangat terkejut ketika sisi gelap Rey begitu dominan.

Lalu sampailah pada scene yang akan sangat disukai fandom Reylo, yaitu force connection antara Rey dan Kylo ren (Ben Solo). Aku sudah melihat banyak force connection antara Luke dengan Leia, Luke dengan Darth Vader di Empire Strikes Back. Semua dapat melakukan force bond karena ikatan mereka sangat kuat. But Kylo dan Rey? Mereka hanya disatukan oleh force, tidak ada hubungan darah.

Dengan adanya force connection, aku rasa yang ingin Rian sampaikan adalah, mereka berhubungan, mereka saling membutuhkan. Aku tidak tahu akhir hubungan antara Rey dengan Kylo seperti apa, tapi aku bisa mengatakan dengan jelas, bahwa mereka tidak bisa dipisahkan.

Kamu akan disuguhi force connection antara Rey dengan Kylo beberapa kali. Dan ini bukan force bond yang hanya dapat berbicara jarak jauh saja seperti Leia dan Luke, tapi Rey dapat melihat dengan jelas Kylo, dan sebaliknya dengan Kylo. Dia dapat menyentuh Rey, bahkan saat Rey berdiri di tepi laut dan terkena air dari ombak didepannya, Kylo pun juga ikut basah. This is HUGE.

Selain force connection, pertanyaan-pertanyaan yang timbul di The Force Awaken 2 tahun lalu terjawab sudah. Siapakah Rey? Mengapa Ben Solo memilih dark side dan menjadi Kylo Ren? Mengapa dia membunuh ayahnya? aku ingin sekali menceritakannya, tapi tanganku pegal haha

Tapi biar aku menceritakan sedikit, setelah tahu alasan Ben Solo berubah menjadi Kylo Ren, Ben adalah tokoh di Star Wars yang menurutku paling tragis. Namun satu-satunya kunci bagaimana force akan berjalan seimbang. Adam did a fucking beautiful job portraying this man, this boy who’s in the wrong place and has the wrong allies. Who lost hope in himself as others did too and who thought was to have been betrayed by his family. Who’s been manipulated his whole life. Who’s conflicted. And I can’t get over it.

So when Luke tells Rey what he did to Ben Solo when he was a child, Rey says he will turn, and Luke tells her it won’t go the way she thinks.

She holds out the lightsaber to him once again, saying “Fine, help us then.” When he refuses, she says “Then he is our only (last) hope” and ships herself off to him in a box.

If that’s not a solid road map of where this trilogy is headed, I don’t know what is.

Ben Solo, although everyone has lost hope in him now (including his mother and Rey), will have some sort of reckoning, and he will bring hope and balance to the galaxy.

Masih banyak yang belum aku ceritakan, Finn, Rose, Chewie, dan semua cast memiliki cerita menarik. Dan menjadikan semua kisah itu menjadi sebuah cerita adalah pekerjaan yang sangat besar.

Kurasa ini cukup. This is the one of the most emotionally powerful moments in the entire saga.

May the force be with you..

The Siege of Jadotville : Review

Kalo kamu berharap Jamie Dornan bakal buka-bukaan (baca : naked) di film ini. Lupakan. Yeaah, kamu masih bisa sih menikmati Dornan walk’s yang oh-so-breathtaking dan tentu saja his intelectually invigorating acting. 

Film ini mengisahkan tentang blue berets soldiers alias United Nations (UN) peace keepers. Dengan background cold war, antara USA dengan USSR yang sama-sama tertarik dengan kekayaan bumi Congo -uranium- mengakibatkan Irish UN soldier were dropped in the middle of civil war. Komandan Pat Quinlan (Jamie Dornan) harus berjuang demi prajurit-prajuritnya untuk bertahan dengan segala kemungkinan yang sangat tidak mungkin ada solusinya.

Konspirasi politik, membuat UN troops semakin terdesak. Dan realita bahwa film ini adalah kisah nyata yang kebenarannya ditutupi hingga 41 tahun bikin aku makin melek buat nonton. The film tries very hard to be joth a historical record, reasonably faithful to the events, and also a kick ass action film.

This film is tightly written, brilliantly acted by everyone and the action sequences are SUPERB. Everything is tight, suspenseful and believable. You are sucked in by the movie. A little known skirmish, with great characters, great acting. 

Jadi, 3 alasan kenapa film ini wajib tonton :

  1. The lead actor, Jamie Dornan 
  2. Kisah nyata
  3. Strategi perang yang ga pernah aku temukan di film perang lain
  4. Komandannya berhasil menjaga anak buahnya utuh! Ga ada yang mati! Ini gila!
  5. Irish troopers? Jarang ada kan..
  6. Cara berjalan Jamie Dornan HAHAHA

Oke itu lebih dari 3. So? I assure you it was A grade movie. Hard to better… a must see film.

Just live ..

Sometimes you need to step outside, clear your head and remind yourself of who you are, and where you wannabe be.

And sometimes you have to venture outside your world in order to find yourself.

Run

Create

Push

Kick

Ask

Change

Give

Optimize

Search

See

Write

Dance

Dream

Spin

Hear

Fly

Desire

Move

Relax

Brawl

Kiss

Live with intention

Walk to the edge

Listen hard

Practice wellness

Play with abandon

Laugh

Choose with no regret

Continue to learn

Do what your love

Live as if this is all there is

Just … live.

Me Before You : Movie Reviews


Setelah perjuangan batin selama 3 jam 17 menit dari jam 9 malam. Kuputuskan akhirnya perutkulah yang menang, maksudku sepiring Indomie goreng ekstra cabe dan telur mata sapi yang menang. How can you doubt that? Indomie.goreng.tak.pernah.salah.

Well, tapi konsekuensinya jika kamu nekad makan tengah malam, minimal kamu harus terjaga 3 jam setelahnya untuk “mencegah” kalori menumpuk. 

Fine.. itu cuman teoriku sik. Jadi sambil mengisi 3 jam sebelum akhirnya boleh tidur, aku memutuskan untuk nonton film saja. Seingatku ada 4 film yang belum aku lihat. So I toward into my dvd rack (sebenarnya bukan rak, hanya tumpukan dvd berserakan) dan menemukan “film malam” (film malam istilahku untuk film yang hanya boleh dilihat sendirian dan ketika anak sudah tidur), you know the reason why i name it like that, do you? 

Dan pilihan saya jatuh ke Me Before You yang dibintangi mas Sam Claflin dengan his tip smiles-nya yang terkenal and mba Emilia Clarke yang errr… memiliki alis yang You.Know.Why.

Dan inilah sedikit review yang bisa aku tulis.

Well… I cry …. a lot, I get emotional very easily with real things and  unreal like movies or books. It’s a public records. Even when I’m not sad, I do cry!! And I haven’t cried as much as I did during Me Before You in a long .. emm week maybe.. and it’s the kind of film that breaks you in TWO! Providing a cathartic release or tears that it’s important to experience once in a while. 

The film is based on the best selling novel by Jojo Moyes. Aku belum punya bukunya (OH NO!). Namun tidak membaca bukunya sebelum menonton filmnya juga engga terlalu buruk kok.  So while book readers will be prepared for the outcome, those of you are engaging with the story for the first time are in for an emotional kick to the stomach.

Ceritanya fokus kepada Louisa Clark (Emilia Parker) wanita eksentrik yang menemukan pekerjaan baru sebagai asisten perawat setelah dia dipecat dari toko kue. Tentu saja itu bukan pekerjaan impian Lou, tapi karena Lou sebagai tulang punggung keluarga (Ayah, Ibu, Kakek dan saudaranya), Lou terpaksa harus menerima apapun pekerjaan yang datang kepadanya, termasuk menjadi perlayan (perawat dan pelayan) dari seseorang bisnisman muda kaya raya yang lumpuh akibat cedera tulang belakang karena motorcycle crash, Will Traynor (Sam Claflin).

Pertemuan Lou dengan Will sudah bisa ditebak bukan pertemuan yang “hangat”. Will is understandably depressed and angry. But Lou, always wearing bright, unusual apparel, is a cheerful and optimistic as he sullen. And little by little she begins to draw Will out of his shell. The connection they share allows you to become completely immersed in their love story and if you let yourself succumb to the emotional rollercoaster ride you’re in for a tear-jerking treat.

I don’t know where you’d find a more charming actress than Clarke. Her eyebrows are the most expensive I’ve ever seen (just wait until you see her and then you’ll know what I’m talking about). Dan tentu saja ada Sam Claflin, yang berakting hanya dengan kemampuan pundak ke atas. Dan aktingnya benar-benar hebat.

Tapi tetap saja saya membenci ceritanya. Cerita ya.. bukan filmnya. 

Maksudku.. yeah.. Will tidak harusnya mati (ups spoiler hehe). Dia berhak mendapatkan cinta, kasih sayang meskipun dalam kondisinya yang lumpuh. Aku bener-bener gak ridho, dan dipaksa untuk harus mengerti, bahwa hanya kematianlah yang bisa membuatnya tenang. 

Nangisnya kurleb kayak gini nih

Dan ini membuatku meraung (menangis keras) dan maki maki gak jelas sama pengarang bukunya. Pleaseeee buat endingnya hepi donggg. Masak gini ceritanya. Sialan.

Expect to have your heart touched before the movie is over. And take some tissues.

Met nonton.

RUN

Oke, pertama melakukan peregangan untuk kaki, strech in strech out, dengan gampang kudorong punggung hingga hidungku menyentuh lutut, tahan 8 detik lalu aku rubah posisi kakiku membentuk sudut 60°. Mengulangi lagi gerakan mencium lutut. Dan melanjutkan peregangan untuk pinggul, lengan, leher dan tumit. Total 15 menit dan aku sudah cukup hangat untuk memulai kilometer pertama. 

Kabut tipis masih menutupi jalanan, matahari juga belum menunjukkan kemilaunya. Yang aku lihat hanyalah akasia yang teduh dan terlihat mengerikan karena bayangannya tampak membesar akibat penerangan lampu jalan. Well, setidaknya cicit burung dan bau hujan semalam yang manis sedikit menentramkan. Kuayunkan kakiku perlahan, kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-breathe, kanan-kiri-kanan-release. Ini mudah, kakiku semakin cepat mengayun dan aku nafasku tetap teratur. Ya Tuhan, aku mencintai olahraga ini.

Yeah… setidaknya aku ingin menulis begitu. Gila saja kalau kau percaya. 

Lari itu … hard….. haaaaarrrrddd.

See, lihat huruf a yang aku tulis. Itu menunjukkan bahwa ini olahraga yang susaaaaaaah. Ya Tuhan, aku menulis a lebih panjang lagi #rollinyes. Lantas kenapa aku memilih olahraga yang susah? 

Baiklah, sebelumnya aku tidak pernah terbayang akan mencoba berlari. Siapa sih yang mau bangun pagi-pagi. Sore bisa sih, asal kamu mau berdamai dengan polusi udara. Lari buatku adalah olahraga terberat yang pernah aku coba. Karena ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, tidak jika usiamu 34 tahun, memiliki pernafasan yang pendek, dan kaki berkarat yang tidak mau digerakkan. 

Bagian terberat adalah fokus. Sungguh, lari butuh fokus, jika tidak, di 100 meter pertama kamu akan menyerah. Kakimu tidak terasa capek, tapi otakmu menyuruh berhenti. Dan ini sangat menyiksaku sampai sekarang.

Bagaimana dengan olahraga lain. Hum, oke coba aku buat daftar.

Tenis : ini olahraga keren, dan I’m pretty good, backhandku kuat kata pelatihnya. Kadang aku menikmati berpura-pura bermain menakjubkan seperti Maria Sharapova, bahkan aku mencontek gayanya -kelar satu set, berbalik melangkah mundur ke garis belakang, berpura-pura membetulkan senar raket (don’t laugh)-. I have passion lah, cuman… masalahnya tidak ada lawan mainnya, aku berlatih bareng dengan anak-anak SD, dan SMP semuanya boys! SMA ada, tapi yakinlah, dengan usiaku di kepala 30-an, bermain dengan anak-anak remaja, itu merusak citraku. Aku takut dikatain… uhmm… Tante Girang, yaah.. meskipun mungkin itu hanya kekhawatiranku sendiri, tapi percayalah.. rasanya buruk. 

Jadi karir ber-tennisku kandas disini, dan goodbye for WTA Tour.. halah.

Aerobik : WHAT THE.. Oke done! Aku menyerah pada latihan pertama. Too noiseee.. sumpah, aku bersyukur pulang latihan tidak kontrol ke dokter THT. Karena kawatir budek. Salut buat yang sanggup.. but this isn’t my things

Yoga : Uhm… quite. Menyenangkan, aku suka, dan boooo.. sebanding dengan biaya yang dikeluarkan tiap sesinya. Buat mengontrol pengeluaran, aku harus mendonlot tutorial yoga simpel yang bisa dilakukan di rumah sendirian, dan mencari olahraga tambahan biar ga boring. And you know what I choose… Yes. Running.

Lari, kukira, pekerjaan yang mudah. Cuma mengenakan sepatu kets dan pergi, bukan? Dibutuhkan sedikit ketrampilan dalam berlari. Semua yang kubutuhkan sudah siap. Bra untuk lari, sudah. Sepatu, sudah (ingatkan aku untuk meminta yang baru #eh). Celana joging warna hitam, sudah. Bukan jenis spandex. Ya ampun, bukan! Ini kain cantik yang longgar dan menyerap keringat. Kaus keren, sudah. Kaus ini bertuliskan “eat me I’m waffle“. Memandangi foto Jamie Dornan, sudah. Maka aku pergi ke pintu.

Setelah satu-dua menit peregangan tidak jelas, aku melangkah turun ke halaman, menuju jalan. Seperti cerita khayalanku diatas, suasana masih lengang, karena itu benar-benar masih pagi. Cuaca yang bagus untuk berlari, pikirku. Akupun mulai berlari, dan menyesal setelah ingat bahwa untuk pemula lebih baik mengawali dengan jalan kaki kira-kira 2 menit terlebih dahulu. Aku terlalu semangat jadinya lupa. Tap, tap, tap. Tidak buruk, mudah ternyata. Syukurlah, tidak perlu banyak koordinasi. Tap, tap, tap, udara tidak begitu dingin, jadi dalam beberapa menit, tubuhku tersengat udara lembab dan sejuk. Aku melewati jalan kecil melewati rumah tetangga yang penghuninya nampaknya masih terlelap. Terus turun menuju jalan besar dan tersadar harus bernapas melalui mulut. Aku bertanya-tanya sudah berapa lama aku berlari, astaga ternyata baru 4 menit.

Rasa sakit luar biasa mulai menusuk dipahaku. Lawan rasa sakit itu! Perintahku pada diri sendiri. Napasku mulai tersengal-sengal. Telapak kakiku memukul-mukul aspal. Aku mendengar paru-paruku protes dan menghisap udara dengan terengah-engah. Aku mengedarkan pandangan ke beberapa orang yang aku lewati, berharap mereka tidak mendengar nafas ngos-ngosanku. Aku ingin terlihat profesional. 

Nafasku semakin terengah-engah. Penapasan agonis. Tiba-tiba aku mengingatnya dari buku perawatan medis yang pernah aku baca. Apa aku sudah lari sejauh satu kilometer. Apa kadar oksigenku turun drastis? Astaga, belum juga sampai setengah blok. 

Aku berhenti mendadak dan mulai berjalan. Oke, aku ingat peraturannya, jangan berhenti tapi berjalanlah lalu mulai lagi. Denyut jantung terasa menyakitkan di kepala. Setelah beberapa menit, aku berhasil menguasai diri dan kembali berlari. Tiba-tiba pusing itu menyerang, dan aku mati-matian untuk berkonsentrasi. Ayo fokus, fokus! Perintahku sekali lagi pada diri sendiri. Bernapas, apa sulitnya sih?.. tarik, embus, tarik, embus, tarik, embus. Ya Tuhan, tampaknya aku mengalami hiperventilasi. 

Dan yang lebih parah, aku harus tersenyum, melambaikan tangan, dan memanjangkan langkah ketika berpapasan dengan orang yang kukenal. Wah, aku terkenal juga ya? Kuhibur diriku sendiri. Baiklah, aku jujur. Aku tidak setenar itu. Mereka penjual sayur mayur yang memang selalu langganan ke rumah. Tapi tetap saja aku harus melambai, aku orang barat dan orang barat harus ramah, aku semakin tidak fokus dan otakku meracau, dan meskipun terasa menyakitkan untuk tersenyum sambil bernapas, aku berhasil juga menyapa. Krisis pun berlalu.

Belum, belum selesai, masih ada satu blok lagi supaya aku bisa menuntaskan kilometer pertamaku. Telapak kakiku semakin sakit, paru-paruku juga sesak, aku harus membayangkan yang lain, jadi kubayangkan aku mengikuti marathon di Bali, memakai baju keluaran Nike dan sepatu New Balance terbaru berwarna abu-abu dan pink. Dan aku berhasil. Aku berhasil mencapai jalan menuju rumah kembali. 

Itu dia halaman kotorku tercinta. Aku menggeser pelan pagar, jatuh terduduk di kursi teras. Lututku terasa lemas, bajuku basah oleh keringat, tenggorokan kering dan sesak, napas panjang yang terasa panas, aku butuh waktu untuk meredakan napas yang tersengal, aku berjalan terhuyung seperti orang mabuk, masuk ke kamar dan mengenyakkan tubuh ke ranjang. Aku tidak peduli akibatnya spreiku akan basah keringat. Aku hanya butuh merebahkan diri. Baru setelah 10 menit kemudian, aku menuang segelas air. Sembari minum aku menuju toilet, kesalahan pertama adalah menatap cermin besar di toilet. Aku tampak merah padam. Bukan merah muda, bukan sekedar merah, tapi benar-benar merah seperti umbi bit. 

Ya Tuhan, ini susah. 

Namun, ketika aku menulis ini, aku sudah lari untuk ke-6 kalinya dalam seminggu. Dan I feel better. Meski aku tahu, butuh lebih dari sebulan untukku untuk stabil, tapi aku tak akan berhenti. Yep. Keep going baby..