Si Kecil dan Tuhan

“Apakah setiap manusia harus masuk Islam?”

“Dimana rumah Allah?”

“Kenapa Allah menyuruh orang salat?”

Pernah dengar pertanyaan seperti itu? Pertanyaan yang seringkali di tanyakan oleh anak-anak kita.

Sudah lama saya pengen nulis soal ini, tapi waktu terbatas sekali (alesan klasik ibu-ibu). Hehe. Tapi memang bener kok, menulis itu butuh suasana yang rileks, jadi waktu yang bisa saya gunakan menulis hanya tengah malam, karena engga mungkin lah saya nulis di workhour’s, cih.

Saya akan menceritakan pengalaman dulu ketika Rafi dengan rasa ingin tahunya yang besar menanyakan mengenai Allah dan keberadaanNya. Hal ini cukup bikin pening, karena saya harus menjelaskan dengan bahasa yang bisa ditangkap olehnya, anak seusianya. Salah menjawab, jika alasannya tidak logis, alamat saya akan terperangkap sendiri dengan jawaban yang saya buat, phew. Beruntung saya menyekolahkan dia di tempat yang memiliki progam edukasi tentang agama yang sesuai dengan yang saya cari.

Dan saya mendapatkan ilmu, bahwa mengenalkan Allah tidak harus dengan cara-cara yang kaku. Menjelaskan bahwa apabila kita tidak mau berdoa dan sholat nanti Allah akan marah dan memberi kita dosa justru akan membuat anak berpikir bahwa Allah itu pemarah. Berabe kan?

Saya nyaris tidak pernah menyuruh.

Ketika bed time, setelah kami bercerita dan bercanda tentang segala sesuatu, saya selalu minta waktu ke Rafi untuk berdoa. Saya hanya bilang, Mama mau berdoa, kamu bisa berhenti sebentar untuk mengobrol?. Ketika diiyakan, saya mulai berdoa dengan suara yang bisa didengar olehnya. Seperti itu setiap malam, hingga suatu hari, saya melihatnya ikut menengahdahkan tangan dan memejamkan mata, dia ikut berdoa. Sampai hari inipun, setiap menjelang tidurnya, dia selalu melakukan hal yang sama, meskipun saya tidak mengawali berdoa. Bagi saya berdoa adalah kebutuhan, saya tidak mau Rafi melihat berdoa adalah syarat supaya tidak berdosa, saya ingin dia terbiasa karena berdoa adalah cara berkomunikasi dengan Tuhan.

Kenapa kita makan tidak boleh makan dengan tangan kiri? Saya pernah melihat seorang Ibu yang memukul tangan kiri anaknya ketika sang anak berusaha mengambil lauk memakai tangan kirinya, dan berkata kalo makan dengan tangan kiri itu sama kayak cara makannya setan.

Saya berpikir bahwa Ibu ini hebat, pernah di ajak jamuan makan sama setan. Bhihihik. Astaga, bok gitu kalo menjelaskan ke anak. Ketika Rafi bertanya seperti itu saya malah menyuruhnya memegang sendok dengan tangan kiri, dan ternyata dia kesusahan. Cukup disitu dulu, menjelaskan alasannya kenapa, sebaiknya kita menunggu sampai acara anak makan selesai.

Kebanyakan dari kita lebih senang menjawab dengan jawaban praktis, jika anak takut, berarti sukses. Surga dan neraka, hantu dan setan selalu dibawa-bawa. Bukankah akan lebih baik dan terdengar lebih indah jika kita menjelaskan dengan cara yang positif.

“Sholat itu enak, hati mama jadi tenang, muka jadi seger habis wudhu, dikasih pahala pula, mama mau siap-siap sholat magrib ahh, kamu mau ikut?” Meskipun menolak, jangan lantas ngomel dan mengeluarkan dakwah sesaat, pasanglah muka manis “Oke, tapi mama tetap siapin sajadah buat kamu ya, siapa tahu kamu pengen nemenin duduk disebelah mama”. Saya pastikan, meskipun anak Anda menggelengkan kepala, tapi dia tidak akan mendebat Anda.

Memang si menjawab pertanyaan tentang agama dari anak harus berdasarkan Al Quran dan Hadits. Namun, dengan belajar menjawab dengan jawaban proporsional sesuai usia anak, itu akan lebih mudah diterima oleh anak. Dan saya berusaha menggali untuk mencari bahan jawaban dari banyak buku. Salah satunya adalah buku, pertanyaan anak tentang agama, karangan M. Quraish Shihab. Dalam buku tersebut terdapat satu pertanyaan yang sangat saya suka jawabannya. Pertanyaan itu, apakah setiap orang harus masuk agama Islam? Di sini M. Quraish Shihab menjawab, kalau Allah memang memerintahkan setiap orang untuk memeluk agama Islam, tetapi Allah tidak mau memaksa mereka. Seandainya Allah memaksa, maka kita tidak akan dianugerahi kemampuan untuk memilih dan memilah. Beragama, harus didasari pengetahuan, kesadaran dan ketulusan. 

Itulah yang ingin saya tanamkan ke Rafi, mengenai ketulusan, kesadaran, bahwa beragama adalah cinta dari Allah, yang mengandung banyak sekali kebaikan. Bukan hanya ancaman neraka “Kalo suka bohong ntar lidahmu dipotong lho di neraka”.