RUN

Oke, pertama melakukan peregangan untuk kaki, strech in strech out, dengan gampang kudorong punggung hingga hidungku menyentuh lutut, tahan 8 detik lalu aku rubah posisi kakiku membentuk sudut 60°. Mengulangi lagi gerakan mencium lutut. Dan melanjutkan peregangan untuk pinggul, lengan, leher dan tumit. Total 15 menit dan aku sudah cukup hangat untuk memulai kilometer pertama. 

Kabut tipis masih menutupi jalanan, matahari juga belum menunjukkan kemilaunya. Yang aku lihat hanyalah akasia yang teduh dan terlihat mengerikan karena bayangannya tampak membesar akibat penerangan lampu jalan. Well, setidaknya cicit burung dan bau hujan semalam yang manis sedikit menentramkan. Kuayunkan kakiku perlahan, kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-breathe, kanan-kiri-kanan-release. Ini mudah, kakiku semakin cepat mengayun dan aku nafasku tetap teratur. Ya Tuhan, aku mencintai olahraga ini.

Yeah… setidaknya aku ingin menulis begitu. Gila saja kalau kau percaya. 

Lari itu … hard….. haaaaarrrrddd.

See, lihat huruf a yang aku tulis. Itu menunjukkan bahwa ini olahraga yang susaaaaaaah. Ya Tuhan, aku menulis a lebih panjang lagi #rollinyes. Lantas kenapa aku memilih olahraga yang susah? 

Baiklah, sebelumnya aku tidak pernah terbayang akan mencoba berlari. Siapa sih yang mau bangun pagi-pagi. Sore bisa sih, asal kamu mau berdamai dengan polusi udara. Lari buatku adalah olahraga terberat yang pernah aku coba. Karena ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, tidak jika usiamu 34 tahun, memiliki pernafasan yang pendek, dan kaki berkarat yang tidak mau digerakkan. 

Bagian terberat adalah fokus. Sungguh, lari butuh fokus, jika tidak, di 100 meter pertama kamu akan menyerah. Kakimu tidak terasa capek, tapi otakmu menyuruh berhenti. Dan ini sangat menyiksaku sampai sekarang.

Bagaimana dengan olahraga lain. Hum, oke coba aku buat daftar.

Tenis : ini olahraga keren, dan I’m pretty good, backhandku kuat kata pelatihnya. Kadang aku menikmati berpura-pura bermain menakjubkan seperti Maria Sharapova, bahkan aku mencontek gayanya -kelar satu set, berbalik melangkah mundur ke garis belakang, berpura-pura membetulkan senar raket (don’t laugh)-. I have passion lah, cuman… masalahnya tidak ada lawan mainnya, aku berlatih bareng dengan anak-anak SD, dan SMP semuanya boys! SMA ada, tapi yakinlah, dengan usiaku di kepala 30-an, bermain dengan anak-anak remaja, itu merusak citraku. Aku takut dikatain… uhmm… Tante Girang, yaah.. meskipun mungkin itu hanya kekhawatiranku sendiri, tapi percayalah.. rasanya buruk. 

Jadi karir ber-tennisku kandas disini, dan goodbye for WTA Tour.. halah.

Aerobik : WHAT THE.. Oke done! Aku menyerah pada latihan pertama. Too noiseee.. sumpah, aku bersyukur pulang latihan tidak kontrol ke dokter THT. Karena kawatir budek. Salut buat yang sanggup.. but this isn’t my things

Yoga : Uhm… quite. Menyenangkan, aku suka, dan boooo.. sebanding dengan biaya yang dikeluarkan tiap sesinya. Buat mengontrol pengeluaran, aku harus mendonlot tutorial yoga simpel yang bisa dilakukan di rumah sendirian, dan mencari olahraga tambahan biar ga boring. And you know what I choose… Yes. Running.

Lari, kukira, pekerjaan yang mudah. Cuma mengenakan sepatu kets dan pergi, bukan? Dibutuhkan sedikit ketrampilan dalam berlari. Semua yang kubutuhkan sudah siap. Bra untuk lari, sudah. Sepatu, sudah (ingatkan aku untuk meminta yang baru #eh). Celana joging warna hitam, sudah. Bukan jenis spandex. Ya ampun, bukan! Ini kain cantik yang longgar dan menyerap keringat. Kaus keren, sudah. Kaus ini bertuliskan “eat me I’m waffle“. Memandangi foto Jamie Dornan, sudah. Maka aku pergi ke pintu.

Setelah satu-dua menit peregangan tidak jelas, aku melangkah turun ke halaman, menuju jalan. Seperti cerita khayalanku diatas, suasana masih lengang, karena itu benar-benar masih pagi. Cuaca yang bagus untuk berlari, pikirku. Akupun mulai berlari, dan menyesal setelah ingat bahwa untuk pemula lebih baik mengawali dengan jalan kaki kira-kira 2 menit terlebih dahulu. Aku terlalu semangat jadinya lupa. Tap, tap, tap. Tidak buruk, mudah ternyata. Syukurlah, tidak perlu banyak koordinasi. Tap, tap, tap, udara tidak begitu dingin, jadi dalam beberapa menit, tubuhku tersengat udara lembab dan sejuk. Aku melewati jalan kecil melewati rumah tetangga yang penghuninya nampaknya masih terlelap. Terus turun menuju jalan besar dan tersadar harus bernapas melalui mulut. Aku bertanya-tanya sudah berapa lama aku berlari, astaga ternyata baru 4 menit.

Rasa sakit luar biasa mulai menusuk dipahaku. Lawan rasa sakit itu! Perintahku pada diri sendiri. Napasku mulai tersengal-sengal. Telapak kakiku memukul-mukul aspal. Aku mendengar paru-paruku protes dan menghisap udara dengan terengah-engah. Aku mengedarkan pandangan ke beberapa orang yang aku lewati, berharap mereka tidak mendengar nafas ngos-ngosanku. Aku ingin terlihat profesional. 

Nafasku semakin terengah-engah. Penapasan agonis. Tiba-tiba aku mengingatnya dari buku perawatan medis yang pernah aku baca. Apa aku sudah lari sejauh satu kilometer. Apa kadar oksigenku turun drastis? Astaga, belum juga sampai setengah blok. 

Aku berhenti mendadak dan mulai berjalan. Oke, aku ingat peraturannya, jangan berhenti tapi berjalanlah lalu mulai lagi. Denyut jantung terasa menyakitkan di kepala. Setelah beberapa menit, aku berhasil menguasai diri dan kembali berlari. Tiba-tiba pusing itu menyerang, dan aku mati-matian untuk berkonsentrasi. Ayo fokus, fokus! Perintahku sekali lagi pada diri sendiri. Bernapas, apa sulitnya sih?.. tarik, embus, tarik, embus, tarik, embus. Ya Tuhan, tampaknya aku mengalami hiperventilasi. 

Dan yang lebih parah, aku harus tersenyum, melambaikan tangan, dan memanjangkan langkah ketika berpapasan dengan orang yang kukenal. Wah, aku terkenal juga ya? Kuhibur diriku sendiri. Baiklah, aku jujur. Aku tidak setenar itu. Mereka penjual sayur mayur yang memang selalu langganan ke rumah. Tapi tetap saja aku harus melambai, aku orang barat dan orang barat harus ramah, aku semakin tidak fokus dan otakku meracau, dan meskipun terasa menyakitkan untuk tersenyum sambil bernapas, aku berhasil juga menyapa. Krisis pun berlalu.

Belum, belum selesai, masih ada satu blok lagi supaya aku bisa menuntaskan kilometer pertamaku. Telapak kakiku semakin sakit, paru-paruku juga sesak, aku harus membayangkan yang lain, jadi kubayangkan aku mengikuti marathon di Bali, memakai baju keluaran Nike dan sepatu New Balance terbaru berwarna abu-abu dan pink. Dan aku berhasil. Aku berhasil mencapai jalan menuju rumah kembali. 

Itu dia halaman kotorku tercinta. Aku menggeser pelan pagar, jatuh terduduk di kursi teras. Lututku terasa lemas, bajuku basah oleh keringat, tenggorokan kering dan sesak, napas panjang yang terasa panas, aku butuh waktu untuk meredakan napas yang tersengal, aku berjalan terhuyung seperti orang mabuk, masuk ke kamar dan mengenyakkan tubuh ke ranjang. Aku tidak peduli akibatnya spreiku akan basah keringat. Aku hanya butuh merebahkan diri. Baru setelah 10 menit kemudian, aku menuang segelas air. Sembari minum aku menuju toilet, kesalahan pertama adalah menatap cermin besar di toilet. Aku tampak merah padam. Bukan merah muda, bukan sekedar merah, tapi benar-benar merah seperti umbi bit. 

Ya Tuhan, ini susah. 

Namun, ketika aku menulis ini, aku sudah lari untuk ke-6 kalinya dalam seminggu. Dan I feel better. Meski aku tahu, butuh lebih dari sebulan untukku untuk stabil, tapi aku tak akan berhenti. Yep. Keep going baby..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s