Anakku, Aturanku

Melihat anak yang semakin tumbuh besar, hati kecil saya kadang berteriak “Kid don’t grow so fast!”
The fact of the matter is, all children grow up, no matter how much we don’t want them to. Well, tentu saja saya ingin sekali dia tumbuh besar dan sehat luar dalam. Namun, yang membuat saya khawatir adalah jaman di mana dia akan tumbuh nanti, yang tentu saja berbeda sangat jauh dengan jaman dimana saya tumbuh -bermain bekel yang tak pernah membosankan sampai kamu menginjak grade six-

C360_2016-01-03-12-02-08-829
Saya paham, bahwa saya tidak akan selamanya bisa mendampinginya, saya harus rela ketika nanti dia akan lebih memilih bersama temannya bermain basket, mungkin, daripada menemani saya membuat adonan kue. Anggap saya paranoid, tapi saya tahu, saya akan merasa sangat khawatir -nanti- daripada dia di umurnya yang sekarang.
Tiap malam ketika dia tidur lelap, saya suka memandangi wajahnya yang polos, matanya yang tak penuh menutup, dengkurnya yang perlahan, dan jari telunjuk yang terselip di antara mulutnya yang mungil. Biasanya saya menangis (mulai mellow deh) mengevaluasi bagaimana perlakuan saya seharian, apakah ada omongan saya yang menyakiti hatinya hari ini? Apakah saya terlalu memaksanya belajar? Apakah saya sempat menolak ajakannya bermain tadi?
Kemudian renungan itu biasanya berakhir dengan harapan bahwa saya harus menjadi pribadi-Ibu-sahabat-gurunya yang lebih baik besok.
Dan harapan itulah yang membuat saya menetapkan beberapa “aturan”, yang selalu saya pegang ketika memberikan “bekal” untuknya, berharap apa yang saya percayai sekarang, bisa bermanfaat untuknya ketika proses kedewasaan mental dan fisiknya mulai berkembang.

1. Berhenti memberikan kenyamanan untuk anak saya.
Terdengar kejam ya?
Ya. Saya memang tidak memberikan kenyamanan untuk anak laki-laki saya. Neneknya menganggap saya “mean mom” alias Ibu tega. Dan suami saya kadang juga risih melihat saya dan anak saya berdikusi (lebih sering debat) untuk menentukan atau memperoleh sesuatu.
Agar dapat hidup dalam kenyamanan, kita membutuhkan pengorbanan. Tidak ada di dunia ini sesuatu yang inginkan tiba-tiba muncul sendiri, untuk meraih sesuatu kita akan berkorban, bekerja, berusaha mendapatkannya.
Saya akan menceritakan beberapa contoh. Misalnya ketika anak saya menghendaki mainan baru, maka saya ajarkan kepadanya bahwa dia harus membelinya sendiri, dengan uangnya sendiri. Darimana dia mendapatkan uang? Mengingat usianya yang muda, bekerja belum menjadi kewajibannya, sehingga saya mencari alternatif yang sesuai dengan perannya.
Setiap nilai 100 yang diperolehnya di sekolah saya memberikan reward untuknya sebesar 10rb rupiah dalam bentuk tabungan. Yang hanya bisa di cairkan sebulan sekali maksimal 50%.
Beberapa menganggap reward saya di atas kurang baik, namun bagi saya, reward itu sangat realistis dan jauh dari kesan konsumtif. Anak saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai 100, otomatis dia akan belajar. Ini sesuai dengan peran dan tanggung jawab dia. Ketika masa untuk mencairkan dana tiba, dia akan belajar membelanjakannya dengan cermat, entah membeli mainan atau buku pilihannya sendiri. Saya menyukai cara ini alih-alih hanya memberikan jatah mainan begitu saja untuknya. Dan saya bisa berhemat. Hihihihi.
Bermain game juga tetap saya beri aturan, jatah dia hanya 1x baterai habis. Sekitar 1-1,5 jam. Saya tidak melarangnya main game, selama saya paham permainan game itu. Jika anak saya menghendaki kenyamanan agar bisa bermain lebih lama. Maka saya akan memberikan pilihan, seperti 30 menit membaca ensiklopedi = reward 30 menit tambahan untuk bermain game.
Atau membersihkan kamar bermainnya = reward 20 menit tambahan waktu main gamenya.
Namun, acap kali dia juga memberikan pilihannya sendiri, dan saya menyambutkan dengan positif-aktif. Kemudian kami akan berdiskusi untuk membuat kesepakatan. Dari kegiatan itu, saya mengharapkan dia belajar untuk bermusyawarah, membiasakan bernegosiasi, tidak malu menyatakan pendapat, yang semuanya merupakan kemampuan atau skill dasar yang harus dimiliki ketika nanti dia dewasa.

2. Menghargai perempuan tanpa merendahkan harga dirinya.
Saya ingin anak saya besar nanti dapat menghargai, mampu melindungi dan menjaga perempuan. Namun dalam prosesnya, saya tidak ingin anak saya kehilangan harga diri mereka sendiri, karena dalam kehidupan sosial di sini selalu terdengar bahwa laki-laki harus mengalah kepada perempuan.
Saya tidak menginginkan itu, saya ingin anak saya tahu batasan mengenai mengalah, sehingga dia tetap memiliki hak untuk ‘melawan’. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan berpendapat, menyuarakan pilihannya.
Jika suatu hari mainannya direbut oleh teman perempuannya, maka reaksi yang tidak saya harapkan adalah keterpaksaan memberikan mainannya. Saya percaya dia akan mampu bernegosiasi dengan teman perempuannya tanpa kehilangan haknya.

3. Saya biarkan dia menangis dan bersedih.
Bahwà menangis adalah ungkapan emosinal yang sah-sah aja dimiliki oleh laki-laki kok. Menangis tidak identik dengan lemah atau cengeng. Selama nangisnya masuk akal, buat saya enggak masalah. Bahkan ketika saya kelepasan marah, saya tetap mendatanginya, menyampaikan alasan kenapa saya marah dan bertanya bagaimana perasaannya, apakah sedih, kecewa kemudian saya biarkan dia menangis di pelukan saya.
Saya mengasuh seorang anak manusia, bukan robot bionic yang tanpa perasaan.

IMG_20160312_204340

4. Mempunyai minimal satu keahlian
Saya memang mensupport anak saya untuk mendapatkan nilai maksimal, namun bukan menuntut. Konsekuensi dari itu adalah saya harus melepaskan kegiatan sampingan les privat untuk anak orang lain, dan full time untuk anak saya. Saya selalu duduk didekatnya ketika dia belajar, Mengajari semua materi pelajaran. Dan saya senang sekali bahwa dia MENIKMATINYA. Saya bebaskan dia memilih jam belajar dan saya bebaskan dia memilih mata pelajaran apa yang ingin dipelajari. Standart saya adalah dia memilih setidaknya 3 pelajaran favorit. Dan nilai di atas rata-rata untuk 3 pelajaran itu. Sisanya? saya biarkan dia belajar natural.
Saya sadar, memintanya untuk mendapatkan nilai 100 di semua mata pelajaran adalah penindasan. Hahahaha. Harapan saya ketika dia memiliki satu keahlian minimal, dia akan mencintai dan menikmati untuk mempelajarinya dengan mendalam. Dan orang-orang hebat pun memulai karirnya dengan mencintai bidangnya bukan? ..

5. Kebebasan bereksplorasi
Anak saya suka menggambar dan merancang bangun dengan mainan lego-nya. Berapa lama dia menghabiskan waktunya untuk melakukan itu? Diseluruh waktu yang dimilikinya. Hahaha. Anak saya tidak mempunyai teman sepermainan di rumah. Jadi saya membebaskan dia bermain apa yang dia sukai asalkan logis dan tidak membahayakan dirinya. Bermain eksperimen, bermain gelas gelas ukur dengan air warna warni layaknya ilmuwan, saya tidak melarangnya.
Saya sedikit membatasi kegiatan yang terlalu menguras tenaganya, karena memang berhubungan dengan kesehatan pernafasannya. Namun ternyata juga tidak masalah, .Disekolah dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain bersama temannya, berlarian, tersandung, jatuh.
Bahkan ketika dia takut-takut menceritakan pengalamannya membeli petasan di sekolah, saya tertawa dan mengajarinya agar aman ketika bermain petasan. Tapi ketika dia menjawab bahwa cukup sekali dia bermain, karena sayang uangnya habis untuk barang yg hanya dibakar, saya percaya bahwa saya tidak salah jalur dalam mengasuhnya.

Parenting is understanding .. rite?.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s